Setiap orang tua selalu memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, tanpa disadari, keinginan melindungi terkadang bisa berubah menjadi sikap terlalu mengontrol atau yang dikenal sebagai helicopter parenting. Ya Moms, dalam pola asuh ini, orang tua cenderung mengambil alih banyak hal yang sebenarnya bisa dipelajari anak sendiri.
Alih-alih membantu, pola asuh ini justru bisa berdampak pada perkembangan mental anak, termasuk menurunnya rasa percaya diri. Anak jadi terbiasa bergantung dan ragu pada kemampuannya sendiri karena jarang diberi kesempatan mencoba.
Apa Itu Helicopter Parenting?Helicopter parenting adalah pola asuh ketika orang tua terlalu terlibat dan mengontrol kehidupan anak, bahkan dalam hal-hal kecil yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh anak. Tujuannya memang baik, yaitu agar anak terhindar dari kesalahan dan selalu dalam kondisi aman.
Namun, menurut Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, pola asuh ini justru bisa berdampak sebaliknya jika dilakukan terus-menerus.
“Tujuannya biar anak aman dan tidak salah, tapi dampaknya anak jadi merasa ‘aku belum bisa tanpa ibu’. Pelan-pelan, rasa percaya dirinya ikut berkurang dan rasa cemas mulai menggerogotinya,” jelas Anastasia pada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Beberapa contoh helicopter parenting yang sering tidak disadari, antara lain:
Memakaikan baju anak karena ingin lebih cepat dan rapi
Melarang anak mencoba hal baru karena takut kotor atau salah
Langsung membantu saat anak terlihat kesulitan
Menentukan pilihan anak, mulai dari pakaian hingga aktivitas
Terlalu sering mengoreksi atau mengatur cara anak melakukan sesuatu
Dalam jangka pendek, anak mungkin terlihat lebih “aman” dan terkontrol. Namun, dalam jangka panjang, dampaknya bisa cukup serius, seperti:
Kurang percaya diri karena jarang mencoba sendiri
Selalu bergantung pada orang tua
Takut membuat kesalahan
Mudah cemas saat menghadapi hal baru
Tidak terbiasa menyelesaikan masalah sendiri
Karena itu, penting bagi orang tua untuk mulai memberi ruang bagi anak belajar dari prosesnya. Sesekali “tegaan” bukan berarti tidak peduli, melainkan memberi kesempatan anak tumbuh menjadi lebih mandiri dan percaya diri. Setuju, Moms?





