Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan dan pengelolaan bioenergi yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (2/4). Biomassa jadi pilar transisi energi Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menegaskan bahwa biomassa memiliki peran penting dalam menjaga pasokan energi sekaligus mendukung target net zero emission (NZE) 2060.
“Penguatan ekosistem biomassa tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita perlu kolaborasi dari hulu hingga hilir, mulai dari sumber pasok, pengolahan, logistik, hingga pemanfaatannya,” ujar Hokkop saat penandatanganan MoU dilansir dari siaran pers, Sabtu, 4 April 2026.
Baca juga: PLN Indonesia Power Produksi 1.101 GWh Energi Bersih dari Biomassa Sepanjang 2025
Untuk memperkuat ekosistem biomassa, PLN EPI mendorong pendekatan terintegrasi melalui skema hub dan sub-hub. Strategi ini memungkinkan konsolidasi bahan baku, standarisasi kualitas, serta distribusi yang lebih efisien ke pembangkit listrik.
“Melalui pendekatan hub, kita tidak hanya mengamankan pasokan, tetapi juga menciptakan efisiensi logistik dan kepastian kualitas biomassa. Ini menjadi fondasi penting untuk memastikan keberlanjutan program cofiring di PLTU,” jelas Hokkop. Diversifikasi jadi kunci Dalam menghadapi dinamika geopolitik global, menurtnya diversifikasi energi berbasis sumber daya domestik menjadi langkah strategis.
“Energi fosil ke depan akan menjadi buffer, sementara energi terbarukan seperti biomassa harus mulai kita dorong sebagai sumber utama. Di sinilah peran PLN EPI untuk memastikan kesiapan ekosistemnya,” tambahnya. Potensi Besar Biomassa di Kalimantan Sementara itu, Direktur Utama PT Kalimantan Powerindo Rudy Gunawan menyambut baik kerja sama ini dan menilai momentum ini penting untuk memperluas pengembangan energi terbarukan.
“Kerja sama ini semakin memotivasi kami untuk memperluas jejak dan berinovasi di sektor energi terbarukan. Inisiatif tersebut sejalan dengan visi dan misi perusahaan untuk berkontribusi pada transisi energi serta mendukung pencapaian Net Zero Emission,” ujar Rudy.
Ia menilai Kalimantan memiliki potensi besar sebagai hub biomassa, terutama dari limbah industri seperti kelapa sawit dan sektor pertambangan.
“Pemanfaatan limbah padat dari pengolahan kelapa sawit menyimpan potensi ekonomi dan lingkungan yang sangat besar, namun saat ini masih terfragmentasi. Pendekatan hub terintegrasi di Kalimantan Timur dapat mendorong pengembangan dan pengelolaan rantai pasok serta penerapan sistem transportasi efisien untuk pengumpulan, pengolahan, dan distribusi. Model ini akan meningkatkan nilai tambah (economic upscale), memperkuat ketahanan pasokan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor, serta membuka peluang ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





