Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Mojokerto
Kementerian Pertanian bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat infrastruktur air melalui pembangunan sumur bor dalam pada Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Infrastruktur ini mampu menekan biaya operasional petani hingga 80 persen sekaligus menjamin ketersediaan air untuk musim tanam.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa penguatan infrastruktur air menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional, terutama di tengah tantangan perubahan iklim.
Menurutnya, ketersediaan air yang stabil akan sangat menentukan keberhasilan musim tanam dan produktivitas pertanian.
Keberadaan sumur bor dalam JIAT menjadi solusi nyata bagi petani untuk mengatasi keterbatasan air, sekaligus meningkatkan efisiensi biaya usaha tani di tingkat lapangan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Dhani Gartina, mengatakan sumur JIAT memberikan kepastian pasokan air bagi petani, khususnya untuk mendukung musim tanam.
“Kalau kelompok tani dan gapoktan di sini bergerak, tahun depan outlet bisa ditambah. Artinya, kepastian air untuk satu musim tanam sudah bisa dijamin. Pemerintah sudah membangun sumber air ini secara gratis, sekarang tinggal petaninya bergerak dan memanfaatkan, serta merawatnya,”kata Dhani dalam keterangan tertulis, Sabtu, 4 April 2026.
Ia menekankan pentingnya kesiapan kelembagaan petani dalam mengelola dan merawat fasilitas irigasi tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Menurutnya, sarana irigasi yang telah dibangun harus dijaga karena memiliki nilai investasi yang besar dan dirancang untuk digunakan hingga puluhan tahun.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh petani setempat. Kepala Dusun Sumenggo, Julianto, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas bantuan sumur bor dalam yang telah lama dinantikan masyarakat.
“Atas nama masyarakat petani Sumenggo dan Junggosari, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah. Bantuan ini sangat berarti, sehingga petani kami tidak lagi kesulitan air,”ungkap Julianto.
Ia menjelaskan, sebelum adanya sumur bor dalam, petani masih menggunakan sumur bor dangkal dengan biaya operasional yang cukup tinggi. Dalam sehari, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp500 ribu.
Namun kini, dengan sumur bor dalam yang menggunakan listrik, biaya operasional turun menjadi sekitar Rp70 ribu per hari.
“Sekarang tidak susah lagi mencari dan mengangkut solar. Ini sangat membantu dan meringankan beban petani,”jelasnya.
Julianto juga menyebut bantuan tersebut merupakan jawaban atas penantian panjang masyarakat yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia berharap keberadaan sumur bor dalam ini dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.
Dengan efisiensi biaya hingga 80 persen serta kepastian pasokan air, pembangunan sumur bor dalam JIAT diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews





