REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cendekiawan Muslim Prof Din Syamsuddin mendorong perguruan-perguruan tinggi di Indonesia untuk menjalin kerja sama strategis dengan Iran, termasuk dalam studi teknologi persenjataan. Gagasan ini ia sampaikan saat bertemu dengan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, HE Mohammad Boroujerdi, kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah 2005-2015 ini mengungkapkan harapannya agar hubungan RI dan Iran dapat diperluas. Kerja sama bilateral tidak hanya mencakup sektor pendidikan dan ekonomi, tetapi juga merambah pengembangan teknologi strategis yang semakin penting dalam dinamika global saat ini.
Baca Juga
MPMX Bukukan Laba Rp462 Miliar
Puluhan Siswa di Jaktim Diduga Keracunan Usai Santap MBG, BGN Tutup Dapur SPPG
Warga Oslo Gelar Aksi Damai Tolak Hukuman Mati Tahanan Palestina
Menurut Din Syamsuddin, fondasi kerja sama antarperguruan tinggi sebenarnya telah mulai terbangun. Ia mengungkapkan, pada tahun lalu sekitar 30 rektor dari Iran telah bertemu dengan sejumlah pimpinan perguruan tinggi di Indonesia guna menjajaki peluang kolaborasi lintas bidang.
Meski demikian, ia menilai, potensi kerja sama tersebut masih belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, Din mengusulkan penambahan bidang baru yang lebih spesifik dan strategis dalam kemitraan kedua negara.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kita ingin belajar persenjataan, teknologi persenjataan (dari Iran)," ujar Guru Besar Ilmu Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah itu usai bertemu dengan Dubes Iran untuk RI, HE Mohammad Boroujerdi, di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Jumat (3/4/2026).
Ia mengingatkan, Iran memiliki kontribusi besar dalam sejarah peradaban manusia. Lebih-lebih, dalam masa keemasan peradaban Islam yakni sekitar tahun 650–1250 M. Peranan kaum ilmuwan dan cendekiawan Muslim Persia sangat krusial dalam periode panjang tersebut, terutama dalam mengembangkan sains dan filsafat Islam.