Pemerintah Turki resmi menaikkan tarif listrik dan gas alam untuk rumah tangga hingga sektor industri mulai 4 April 2026.
Kebijakan ini diambil sebagai respons atas lonjakan biaya energi global yang dipicu ketegangan geopolitik, termasuk gangguan distribusi di Selat Hormuz di tengah konflik Iran.
Penyesuaian tarif diumumkan oleh regulator pasar energi nasional setelah harga energi dunia terus meningkat. Meski pasokan energi domestik relatif aman, tekanan harga global memaksa pemerintah melakukan penyesuaian untuk menjaga stabilitas sistem energi.
Berdasarkan kebijakan terbaru, tarif listrik mengalami kenaikan signifikan di berbagai sektor. Untuk pelanggan rumah tangga, tarif naik sebesar 25 persen.
Sementara itu, sektor layanan publik dan swasta mengalami kenaikan 17,5 persen, pelanggan industri 5,8 persen, dan sektor pertanian sebesar 24,8 persen.
Dengan skema baru ini, rumah tangga yang mengonsumsi 100 kilowatt-jam listrik diperkirakan membayar sekitar 323,8 lira Turki atau setara 7,26 dolar AS.
Dilansir dari Turkiye Today, kenaikan juga terjadi pada tarif gas alam. Operator jaringan pipa milik negara, BOTAŞ, menetapkan kenaikan rata-rata 25 persen untuk konsumen rumah tangga.
Sementara itu, pelanggan industri menghadapi kenaikan sebesar 18,61 persen, dan gas untuk pembangkit listrik naik 19,42 persen.
Pemerintah tetap mempertahankan sistem tarif bertingkat berbasis konsumsi untuk pelanggan rumah tangga. Skema ini dirancang untuk mengendalikan permintaan sekaligus mendistribusikan beban biaya secara lebih proporsional sesuai tingkat penggunaan energi.
Alparslan Bayraktar Menteri Energi Turki sebelumnya menegaskan bahwa negaranya tidak mengalami gangguan pasokan energi yang signifikan meskipun terjadi penutupan de facto Selat Hormuz sejak awal konflik.
Ia juga membantah laporan bahwa Iran menghentikan pasokan gas melalui jaringan pipa setelah serangan udara Israel terhadap ladang gas South Pars. Namun demikian, Bayraktar mengakui tekanan harga global tetap menjadi tantangan utama.
“Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel akan menambah beban biaya energi Turki hingga 400 juta dolar AS,” ujarnya.
Untuk meredam dampak terhadap masyarakat, pemerintah Turki telah mengalokasikan anggaran subsidi energi sebesar 305 miliar lira atau sekitar 6,87 miliar dolar AS pada 2026. Namun, angka ini berpotensi melonjak hingga 925 miliar lira jika krisis energi berkepanjangan.
Sejak konflik berlangsung, harga minyak mentah dunia jenis Brent Crude Oil hampir dua kali lipat menjadi sekitar 109 dolar AS per barel. Sementara itu, harga gas alam Eropa di hub TTF Belanda juga melonjak hingga di atas 50 euro per megawatt jam. (saf/faz)



