JAKARTA, DISWAY.ID-- Hingga saat ini, keputusan Pemerintah untuk menetapkan kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) sebagaimana yang sempat dikhawatirkan masih kian menuai reaksi yang cukup beragam dari masyarakat.
Bukan tanpa alasan. Pasalnya, dinamika harga energi global masih sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasokan minyak dunia.
BACA JUGA:Olivia Rodrigo Comeback Rilis Album Ketiga 'You Seem Pretty Sad For A Girl So in Love' 12 Juni 2026
Hal serupa pun juga turut dikatakan oleh Pakar Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti). Menurut Board of Experts Prasasti dan pakar energi Indonesia, Arcandra Tahar, dalam struktur industri energi global, Indonesia sendiri tidak memiliki ruang luas untuk menentukan harga minyak secara independen.
Oleh karena itulah, dirinya turut menghimbau pelaku usaha dan masyarakat agar dapat bersikap tenang namun perlu tetap waspada serta mengantisipasi kemungkinan perubahan kebijakan energi di masa mendatang.
"Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di kisaran USD70 per barel, sementara harga pasar saat ini berada pada kisaran USD 90–100 per barel,” ujar Arcandra, Sabtu 4 April 2026.
BACA JUGA:Kebakaran SPBE di Bekasi, Camat Soal Dokumen Warga: Dukcapil Akan Datang ke Posko
“Ini menunjukkan peningkatan risiko geopolitik dan ketatnya pasokan energi global," tambahnya.
Dalam hal ini, dirinya juga turut menyatakan bahwa dalam kondisi harga minyak meningkat dan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan, pemerintah juga menghadapi dilema kebijakan yang semakin kompleks.
Pasalnya, jika harga BBM domestik dipertahankan pada level saat ini, beban subsidi energi berpotensi meningkat signifikan dan memberi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Harga minyak pada dasarnya mengikuti harga pasar. Indonesia membeli di pasar. Produksi domestik baik melalui K3S (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) maupun Pertamina pun dijual dengan mengacu pada harga pasar,” jelas Arcandra.
BACA JUGA:Cegah Praktik Haji Ilegal 2026, Kemenhaj Gandeng Imigrasi Perkuat Garda Depan
"Tekanan tersebut semakin besar karena harga minyak global kini bergerak jauh di atas asumsi dalam APBN. Namun apabila harga BBM disesuaikan mekanisme pasar, dampaknya dapat langsung terasa melalui kenaikan inflasi serta penurunan daya beli masyarakat" terangnya.
Di sisi lain, Prasasti juga menilai pemerintah perlu merespons secara cepat berbagai potensi gangguan terhadap aktivitas industri yang dapat muncul akibat eskalasi geopolitik global.
Dalam hal ini, gangguan terhadap pasokan energi maupun bahan baku industri berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan produktivitas sektor manufaktur.
- 1
- 2
- »





