Tangerang: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengevaluasi sistem keamanan bagi prajurit penjaga perdamaian. Permintaan ini disampaikan menyusul gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas di Lebanon selatan di bawah bendera UNIFIL.
"Harus ada satu garansi keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian," ujar Sugiono di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu, 4 April 2026.
Menlu menjelaskan, prajurit penjaga perdamaian bertugas untuk menjaga situasi yang sudah damai. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan peace making atau pembuatan perdamaian yang memerlukan kekuatan ofensif.
"Ini perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, situasi damai yang dijaga. Ini juga merupakan mandat dari PBB," katanya.
Baca Juga :
Penghormatan Terakhir 3 Patriot TNI, KSAD: Kami Sangat Kehilangan
Oleh karena itu, lanjut Sugiono, Indonesia meminta PBB untuk mengevaluasi kembali sistem keselamatan prajurit penjaga perdamaian di mana pun mereka bertugas, khususnya di UNIFIL Lebanon.
"Kita sekali lagi berupaya agar pasukan perdamaian kita sehat dan selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka," tegasnya.
Sebelumnya, tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda XXIII-S/UNIFIL Lebanon dinyatakan gugur akibat tembakan artileri di dekat posisi mereka di Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu, 29 Maret 2026.




