Menyaksikan Tradisi Katto Bokko di Maros: Padi Diarak, Panen Resmi Dimulai, dan Persatuan Diteguhkan

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

ILHAM WASI, MAROS

Masyarakat Kabupaten Maros kembali menggelar tradisi tahunan Katto Bokko, sebuah ritual pengikatan padi yang sarat nilai filosofis dan sosial. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali sebagai penanda dimulainya musim panen.

Pelaksanaan Katto Bokko ditentukan melalui kesepakatan pihak Istana Balla Lompoa Kakaraengang Marusu. Tahun ini, ritual tersebut digelar pada Sabtu, 4 April 2026.

Secara etimologis, katto berarti alat pemanen padi, sedangkan bokko berarti ikatan besar. Katto Bokko dimaknai sebagai panen raya yang dilakukan dengan cara mengikat padi hasil panen, lalu diarak menuju Istana Balla Lompoa. Saya bersama tim Galung Project berkesempatan menyaksikan langsung proses ini. Tim Galung merupakan tim riset untuk pertunjukan bertema ekologis yang didukung Dana Indonesiana.

Ritual ini berlangsung di wilayah Istana Balla Lompoa Kakaraengang Marusu, tepatnya di Jalan Taqwa Kassi Kebo, Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Lahan persawahan kerajaan yang menjadi pusat kegiatan berjarak sekitar satu kilometer dari istana, dengan luas kurang lebih 10 are.

Padi yang digunakan bukan padi biasa. Masyarakat menyebutnya ase banda, yakni jenis padi dengan batang lebih besar dan tinggi, serta bulir berbentuk bulat dan berbulu.

Sejak pagi, puluhan warga telah turun ke sawah untuk memanen padi yang menguning. Proses panen diawali dengan pengambilan uluase (kepala padi), kemudian dilanjutkan dengan pemotongan padi menggunakan sabit. Orang dewasa bertugas memotong, sementara anak-anak mengumpulkan padi dan membawanya ke pematang.

Di tengah modernisasi alat pertanian, proses panen tetap dilakukan secara tradisional. Di pematang sawah selebar sekitar dua meter, disiapkan tempat berteduh dari kain merah. Di sinilah padi dibersihkan dari daun dan dirapikan sebelum diikat.

Seluruh lapisan masyarakat terlibat, mulai dari perempuan, laki-laki, orang tua, hingga anak muda. Mereka bekerja sama dengan semangat gotong royong yang kuat.

Setelah dibersihkan, proses dilanjutkan dengan pembuatan bokko oleh lima hingga enam orang. Segenggam padi dililit menggunakan rotan sebagai pengikat, sementara beberapa orang lainnya menekan ikatan agar tetap kuat. Proses ini dilakukan berulang hingga terbentuk ikatan padi berukuran besar.

Jumlah ikatan yang dibuat sebanyak 12, terdiri atas dua uluase sebagai simbol utama dan sepuluh bokko sebagai pengikut. Panen dimulai pukul 08.00 WITA dan berakhir sekitar pukul 13.00 WITA. Satu ikatan besar biasanya dipikul oleh enam hingga delapan orang.

Arak-arakan dipimpin pembawa bendera merah-kuning serta Merah Putih, dengan uluase berada di barisan depan. Rombongan berjalan menyusuri pematang sawah dan permukiman warga sejauh satu hingga dua kilometer. Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat, bahkan berlari kecil sebagai simbol semangat kebersamaan.

Dua ikatan padi terbesar diangkut menggunakan bambu yang disilangkan agar dapat dipikul lebih banyak orang. Prosesi berakhir di hadapan Karaeng Marusu, Andi Abd Waris Tadjuddin Karaeng Sioja  yang telah menunggu di Istana Balla Lompoa.

Suasana semakin semarak dengan iringan musik tradisional seperti gendang, gong, dan puik-puik. Angngaru—sumpah setia dalam tradisi—turut menggema oleh tiga pemuda secara bergiliran.

Setelah itu, para pelaku angngaru menerima restu dari karaeng yang ditandai dengan sentuhan pada songkok mereka. Padi kemudian dinaikkan ke dalam istana.

Usai seluruh rangkaian prosesi, masyarakat dan tamu undangan menikmati hidangan yang disiapkan oleh pihak istana sebagai tuan rumah. Para tamu istimewa dijamu langsung oleh Karaeng Marusu di ruang Istana Balla Lompoa.

Turut hadir Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Maros, Yusriadi Arief, serta para raja dan komunitas budaya.

Abdul Asis (55), salah satu warga yang terlibat dalam pelaksanaan ritual, mengatakan Katto Bokko bukan sekadar kegiatan mengikat padi, melainkan juga sarana mempererat silaturahmi.

“Seluruh masyarakat berkumpul dan bergotong royong. Ini adalah adat istiadat yang terus dilaksanakan setiap tahun,” ujarnya.

Dalam struktur Katto Bokko, terdapat dua jenis ikatan padi yang memiliki makna simbolis, yakni uluase sebagai simbol utama dan bokko sebagai pengikut. Proses pengikatannya pun memiliki aturan khusus. Untuk uluase, pengikatan dilakukan dengan 13 genggaman padi dalam satu lilitan, sedangkan bokko disesuaikan dengan volume padi.

Dahulu, ukuran ikatan bisa mencapai 13 lilitan besar, namun kini ukurannya lebih kecil. Bokko diikat menggunakan rotan sepanjang sekitar lima meter dan diangkut dengan dua batang bambu yang disilangkan, sementara uluase dapat dipikul oleh satu hingga empat orang.

Secara keseluruhan, susunan ini merepresentasikan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Ase Banda: Bahan Sakral Bernilai Tinggi

Padi yang digunakan dalam ritual ini merupakan jenis khusus yang dikenal sebagai ase banda (disebut salapang dalam bahasa Makassar dan ase mandi dalam bahasa Indonesia). Jenis ini dipilih karena memiliki batang lebih besar, tinggi, serta berbulu.

“Padi berbulu digunakan karena tingkat kerontokan bulirnya lebih rendah dibandingkan padi biasa,” jelas Abdul Asis.

Padi tersebut ditanam di lahan khusus, kemudian dibawa ke rumah adat sebagai bagian dari rangkaian upacara. Dalam perjalanan menuju Balla Lompoa, masyarakat juga menampilkan atraksi adat seperti Angngaru. Rangkaian prosesi ditutup dengan penyimpanan padi di dalam istana.

Tokoh pemuda, Andi Syarif Wajdi Mallawakkang, menjelaskan bahwa prosesi dimulai sejak pagi dengan pengambilan uluase.

“Padi harus diarak dari jauh agar masyarakat mengetahui bahwa panen sudah dimulai oleh karaeng. Biasanya, masyarakat tidak akan memulai panen sebelum karaeng memulainya,” ujarnya.

Tradisi Katto Bokko merupakan simbol panen raya atau “panen kerajaan” yang menandai dimulainya masa panen bagi seluruh warga. 

Tradisi ini memiliki peran penting dalam tatanan sosial masyarakat. Petani tidak akan memulai panen sebelum prosesi Katto Bokko dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap adat.

Meski menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal pendanaan, masyarakat tetap berkomitmen melestarikan tradisi ini melalui sistem gotong royong atau “kongsi”.

“Biar garam yang dimakan, acara ini harus tetap terlaksana,” ujar Syarif, menggambarkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Sulut Beri Respons Menohok Soal Viral Polisi Dimutasi karena Usut Kasus Dugaan Korupsi
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Kebiasaan Makan ala Jepang Membantu Hidup Sehat Tanpa Diet
• 18 jam lalukompas.id
thumb
Sosok Mayor Zulmi di Mata Keluarga: Prajurit Saleh yang Gemar Bermusik
• 38 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Gempa bumi magnitudo 5,8 di Afghanistan utara menewaskan delapan orang
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
KLH Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Lewat Studi Tiru Daerah
• 11 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.