Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, membahas eskalasi konflik di Timur Tengah melalui sambungan telepon, pada Jumat 3 April 2026. Kedua pemimpin tersebut sepakat mendesak agar gencatan senjata segera dilaksanakan demi meredam ketegangan di kawasan tersebut.
Dalam pembicaraan tersebut, Erdogan dan Putin menekankan pentingnya sebuah perjanjian perdamaian yang komprehensif. Erdogan memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut hingga menciptakan 'titik panas' baru di kawasan lain.
Menurut Erdogan, agresi militer yang terus meningkat secara intensif hanya akan membawa konsekuensi negatif yang serius. Ia menggarisbawahi bahwa dampak dari ketidakstabilan ini tidak hanya dirasakan di tingkat regional, tetapi juga akan merambat ke skala global.
Baca juga: Intelijen AS Sebut Iran Akan Gunakan Strategi Selat Hormuz untuk Akhiri Perang
Selain masalah keamanan, kedua pemimpin dunia ini juga menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik tersebut. Eskalasi militer dinilai dapat mengganggu stabilitas di berbagai sektor vital, termasuk energi, perdagangan, dan jalur logistik internasional.
Kekhawatiran ini didasari pada posisi strategis kawasan Timur Tengah dalam rantai pasok global. Oleh karena itu, gencatan senjata dianggap sebagai langkah mendesak yang tidak dapat ditunda lagi untuk melindungi kepentingan ekonomi dunia.




