Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belum menunjukkan hasil. Negara-negara mediator di kawasan mengakui proses menuju kesepakatan gencatan senjata masih menemui jalan buntu.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada Jumat (3/4/2026), pihak Iran menyampaikan kepada negara-negara penengah bahwa mereka menolak menghadiri pertemuan dengan pejabat AS yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan di Pakistan.
Penolakan ini disebut berkaitan dengan tuntutan dari Washington yang dinilai tidak dapat diterima oleh Teheran.
Mesir dan Turki sebagai dua negara yang ditunjuk sebagai mediator masih mengupayakan dialog dengan memfasilitasi serta memberikan opsi tempat, seperti Doha atau Istanbul, untuk melaksanakan pembicaraan antara AS dengan Iran.
Sebelumnya, Mojtaba Ferdosipour kepala misi diplomatik Iran telah menegaskan pernyataan Iran yang tidak akan menyetujui resolusi dengan gencatan senjata, dan hanya menyetujui penghentian sepenuhnya perang.
Dilansir dari Antara, Esmaeil Baqaei Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu (1/4/2026) lalu turut membantah pernyataan Donald Trump Presiden AS yang mengklaim Teheran menginginkan gencatan senjata.
Sebagai informasi, AS dengan Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran sejak 28 Februari yang berakibat pada kerusakan fasilitas di Iran dan jatuhnya ribuan korban jiwa, termasuk Ali Khamenei mantan Pemimpin Tertinggi Iran.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di beberapa negara di Timur Tengah.
Konflik tersebut bereskalasi panjang hingga menyebabkan Iran melakukan blokade de facto jalur perairan Selat Hormuz sehingga menyebabkan hambatan pada pengiriman suplai minyak mentah dari negara-negara Teluk ke pasar global. (ant/vve/saf/faz)




