Menghadapi Musuh Tersembunyi di Balik Kemenangan Idul Fitri

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Lebaran menjadi puncak kegembiraan seorang muslim, setelah melewati 1 bulan penuh bulan ramadhan. Rumah penuh dengan ramainya pengunjung, hidangan mewah dan kudapan berjejer di meja, amplop THR anak-anak beterbangan bagaikan rudal Iran yang menyerang Amerika. Tapi, begitu hiruk-pikuk mudik usai dan kembali pada rutinitas, realitas menyengat: dompet menipis seperti balon kempes tanpa adanya angin. Kondisi keuangan pasca Lebaran bukan sekadar pesta kemenangan, Lebaran adalah bom waktu finansial yang senantiasa mengintai hampir setiap keluarga di Indonesia.

Bayangkan saja, sebelum Lebaran tiba, sudah banyak biaya yang keluar, diantaranya biaya mudik yang mencapai kisaran rata-rata 5 sampai dengan 15 juta per keluarga yang digunakan untuk bensin, tiket kereta, tiket bus, bahkan beberapa orang harus merogoh kantong lebih dalam untuk membeli tiket pesawat yang tentunya semua mengalami lonjakan harga. Kebutuhan lain seperti belanja baju baru, kue kering, daging, dan parcel juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran rumah tangga rata-rata naik 20 hingga 30% menjelang Idul Fitri, dampaknya tabungan bulanan ludes, tagihan kartu kredit menumpuk, serta cicilan mobil, motor, bahkan HP yang tadinya lancar kini terasa menjadi beban yang berat.

Ironisnya, tradisi saling memberi uang tunai (THR atau amplop) justru menjadi jebakan. Kita kasih Rp 50 hingga 100 ribu per kepala yang diberikan kepada anak muda seringkali langsung habis untuk nongkrong atau membeli paket internet untuk gadgetnya. Sementara orang yang memberikan, seperti orang tua atau saudara, malah overdraft rekening. Pengalaman Lebaran 2025, pengeluaran keluarga saya tembus Rp15 juta, padahal gaji bulanan hanya 10 juta. Pasca libur, nasi goreng jadi menu harian, promo diskon yang ada di supermarket menjadi penyelamat.

Ini bukan hanya sebuah keluhan, kondisi ini memperburuk siklus utang, banyak masyarakat yang terlilit pinjol pasca Lebaran. Bagaimana Solusinya? Mulai saat ini, kita harus bijak untuk mempersiapkan anggaran Lebaran dengan menyisihkan 20% gaji untuk mudik dan belanja. Mulai saat ini hindari budaya pamer mewah di medsos, pilih parcel sederhana tapi memiliki makna, yang paling utama mulai ajarkan anak soal literasi finansial agar Lebaran tak lagi jadi musuh bagi dompet.

Lebaran merupakan kemenangan hati, bukan perlombaan menyebar uang. Kalau kita tak mampu mengubah pola ini, tahun depan dompet kita tentu bertambah tipis. Saatnya kita menang melawan musuh tersembunyi ini dengan tetap menjadi pribadi yang lebih baik!


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Banjir di Pondok Ijo Ciputat Tangsel, Ketinggian Air Capai 1 Meter
• 16 jam laludetik.com
thumb
731 Praja IPDN Diterjunkan, Tito Targetkan 42 Titik Lumpur Aceh Tamiang Bersih dalam Sebulan
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Petaka Blokir Trump Menggila, Tak Ada Ampun Buat China
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jadi Romo di Film Kuasa Gelap, Jerome Kurnia Kenang Momen Ini
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
5 Menkeu Uni Eropa Ingin Perusahaan Energi Kena Pajak Keuntungan Tak Terduga
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.