Benda Bercahaya Terlihat di Langit Lampung, Pakar Itera Sebut Sampah Antariksa Sisa Roket

kompas.id
18 jam lalu
Cover Berita

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS – Warga di sejumlah daerah di Lampung dihebohkan dengan kemunculan benda bercahaya yang terlihat di langit wilayah Lampung, Sabtu (4/4/2026) malam. Pakar dari Pusat Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera (Itera) Lampung menyebut, benda itu merupakan sampah antariksa dari sisa roket.

Fenomena benda bercahaya yang melintasi langit Lampung pada Sabtu malam sontak menggegerkan warga Lampung. Sejumlah warga yang menyaksikan kejadian itu pun merekamnya. Tak butuh waktu lama, video dan foto penampakan benda bercahaya itu langsung viral di berbagai platform media sosial.

Berdasarkan rekaman video yang beredar, benda bercahaya tersebut terlihat di langit Lampung selama lebih dari 30 detik. Benda itu terlihat mengeluarkan warna terang sehingga menarik perhatian banyak orang. Bahkan, kemunculan benda tersebut memicu banyak spekulasi dari warga.

Sejumlah warga yang melihat dan merekam kejadian itu mengira bahwa benda tersebut merupakan meteor atau komet. Ada juga warga yang khawatir karena mengira benda bercahaya tersebut seperti penampakan roket hingga rudal.

“Cahayanya memang terlihat sangat terang. Saya dan para tetangga juga kaget karena ini baru pertama kali terjadi,” kata Wawan (40), warga Kabupaten Lampung Selatan, yang melihat kejadian itu.

Kepala Pusat Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) Annisa Novia Indra Putri mengatakan, objek tersebut bukan meteor maupun komet. Dia menyebut, benda itu kemungkinan besar merupakan sampah antariksa dari sisa peluncuran roket yang terbakar saat masuk kembali ke atmosfer bumi. Sampah antariksa itu diperkirakan berasal dari sisa badan roket dari China.

“Dari video yang kami lihat, gerakannya agak lambat. Jadi kemungkinan memang bukan meteor atau komet, lebih mengarah ke sampah antariksa,” kata Annisa kepada Kompas, Sabtu malam.

Baca JugaIndonesia dalam Risiko Tinggi Tertimpa Jatuhan Benda-benda Antariksa

Fenomena kemunculan benda tersebut juga terekam oleh kamera all sky yang terpasang di lingkungan kampus Itera di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Dari data yang dihimpun OAIL, kemunculan benda bercahaya di langit Lampung itu terekam pada pukul 19.59.18 WIB.

“OAIL tidak memantau femonena tersebut. Tapi kami melihat dari video yang beredar dan dari sky camera yang memang sudah kami pasang,” kata Annisa yang juga dosen Dosen Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Itera.

Annisa menuturkan, ada kemungkinan benda tersebut jatuh ke permukaan bumi. Kendati begitu, dia menyebut, masyarakat tidak perlu khawatir.

Pasalnya, benda angkasa yang jatuh ke permukaan bumi itu sudah berinteraksi dengan atmosfer yang menimbulkan gesekan dan terbakar. “Yang jatuh ke permukaan bumi biasanya hanya sisa dari benda angkasa tersebut,” ucapnya.

Baca JugaMengapa Indonesia Rentan terhadap Jatuhan Benda Antariksa seperti Meteor?

Merujuk informasi dari situs n2yo.com, laman yang menyediakan layanan pelacakan dan prediksi posisi ribuan satelit buatan secara real-time, pada 4 April 2026, sebuah sisa badan roket CZ-3B R/B terpantau berada di atas wilayah Indonesia bagian barat dengan koordinat sekitar 0,24 lintang utara dan 107,64 bujur timur.

Dari informasi di situs tersebut, roket itu diluncurkan pada 23 Januari 2025 dari Xichang Space Center, China.

Objek yang merupakan sisa badan roket milik China ini berada pada ketinggian sekitar 781 kilometer di atas permukaan bumi dan melaju dengan kecepatan sekitar 7,46 kilometer per detik. Data lintasan menunjukkan bahwa roket masih aktif mengorbit bumi dalam lintasan elips, melintasi kawasan Asia Tenggara hingga Australia.

Pada 4 April mulai pukul 22.24 waktu setempat, roket tersebut bergerak dari arah barat daya (azimuth 233°) dan mencapai elevasi maksimum sekitar 6 derajat pada pukul 22.27, lalu bergerak menuju arah selatan-tenggara (azimuth 153°) dan menghilang pada pukul 22.32.

Sementara itu, Humas dari Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Wahyu Hidayat menuturkan, hingga Sabtu malam, belum ada masyarakat yang melapor terkait dampak dari kemunculan benda bercahaya yang terlihat di langit Lampung.

Fenomena langit

Sementara itu, mengutip artikel berjudul Fenomena Langit Bulan April 2026dari laman langitselatan.com, sejumlah fenomena langit memang terjadi sepanjang April 2026. Artikel tersebut ditulis oleh Avivah Yamani, seorang komunikator astronomi yang juga konsultan di Planetary Science Institute.

Dalam artikel itu disebut, dua komet diprediksi menghiasi langit April 2026 dan berpotensi menjadi objek menarik bagi pengamat astronomi. Komet C/2026 A1 (MAPS) mencapai titik terdekatnya dengan matahari (perihelion) pada 4 April dengan jarak sekitar 0,02 satuan astronomi (sa). Komet MAPS merupakan komet pelintas dekat matahari.

Jika komet ini tidak hancur akibat paparan panas ekstrem, MAPS akan mencapai jarak terdekat dengan Bumi pada 6 April. Dalam kondisi terbaik, komet ini diperkirakan muncul di langit senja di rasi Cetus dan dapat diamati dengan mata telanjang selama beberapa hari, dengan kecerlangan hingga minus 4 magnitudo.

Baca JugaPeneliti Itera: Batu yang Jatuh di Lampung Tengah adalah Meteorit

Mulai 9 April hingga akhir bulan, komet ini masih bisa diamati, meski kecerlangannya akan terus menurun seiring menjauhnya dari matahari dan bumi.

Sementara itu, komet C/2025 R3 (PanSTARRS) dijadwalkan mencapai jarak paling dekat dengan matahari atau perihelion pada 19 April 2026. Komet itu kemudian mendekati bumi pada 26 April 2026. Sepanjang awal hingga pertengahan April, komet ini dapat diamati sebelum fajar saat masih dalam fase mendekati matahari.

Namun, seiring posisinya semakin dekat dengan matahari, komet akan menghilang dari pandangan karena tenggelam dalam cahaya matahari. Setelah melewati perihelion, komet ini kembali muncul dan dapat diamati di langit senja setelah matahari terbenam.

Para astronom memperkirakan, kecerlangan komet C/2025 R3 (PanSTARRS) mencapai sekitar magnitudo 2,8, cukup untuk diamati dengan mata telanjang di lokasi minim polusi cahaya. Dalam skenario terbaik, kecerlangannya bahkan berpotensi meningkat hingga mendekati magnitudo minus 1, setara dengan planet terang.

Pengamat di belahan bumi selatan diprediksi mendapat peluang terbaik untuk menyaksikan komet ini pada akhir April hingga awal Mei, saat menjadi objek langit sore.

Baca JugaHujan Meteor Delta Aquariid Saat Gerhana Bulan Total

Selain komet, fenomena hujan meteor Lyrid juga akan meramaikan langit April. Hujan meteor yang berasal dari sisa debu komet Thatcher C/1861 G1 ini berlangsung pada 14 hingga 30 April, dengan puncak aktivitas pada 21–22 April.

Meteor Lyrid dapat diamati setelah rasi Lyra terbit sekitar pukul 22.09 WIB. Kondisi pengamatan tahun ini relatif ideal karena bulan akan terbenam sebelum tengah malam, sehingga langit lebih gelap. Pada puncaknya, intensitas Lyrid diperkirakan mencapai sekitar 18 meteor per jam, dengan kecepatan mencapai 49 kilometer per detik.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Long Weekend Paskah, ASDP Jaga Layanan Prima di Lintasan Sumatera-Jawa-Bali
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Pemprov DKI Jelaskan Alasan Tertibkan Reklame Iklan Film Horor
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Berhasil Ditangkap, Pulan Wonda KKB yang Tembaki Tito Karnavian Sempat Buron 7 Tahun
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
KSAD Pastikan Ada Penelusuran Terkait Peristiwa di Lokasi Penugasan
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pemerintah Genjot Hunian di Kawasan Padat Perkotaan, MBR dan MBT Jadi Prioritas
• 6 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.