Mentari belum sepenuhnya tinggi ketika langkah warga mulai memenuhi kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (5/4). Sejak pukul 06.30 WIB, aspal yang biasanya dipadati kendaraan berubah menjadi ruang gerak bagi tubuh yang ingin kembali bernapas lebih panjang.
Di bawah sinar matahari yang masih lembut, warga datang berolahraga mencari kesegaran, sebelum kembali pada rutinitas yang menunggu.
Di sepanjang jalan, ritme kehidupan terasa berbeda. Orang-orang berlari dengan napas teratur, sesekali melirik jam tangan pintar yang menempel di pergelangan, menghitung jarak, mengukur waktu, seolah mencoba berdamai dengan tubuh yang perlahan menua.
Di sisi lain, ada keluarga yang berjalan santai, anak-anak berlarian kecil, sementara orang tua mengikuti dengan langkah yang tak lagi tergesa.
Di antara kerumunan itu, aparat Satpol PP dan polisi berjaga. Mereka berdiri di simpul-simpul jalan, memastikan arus manusia tetap tertib, menjaga ruang yang pagi itu menjadi milik pejalan kaki.
Di pinggir trotoar, Ika (26), seorang karyawan swasta asal Jawa Tengah, tampak duduk sejenak sambil merenggangkan kakinya. Napasnya masih tersisa setelah berlari pendek bersama temannya. Ia mengaku datang ke Jakarta sebagai perantau sejak beberapa tahun lalu.
"Asli Jawa sih, Jawa Tengah. Merantau [ke Jakarta]," kata Ika.
Ika mengaku mulai bekerja di Jakarta sejak 2018 sebagai karyawan swalayan. Aktivitas olahraga di CFD, menurutnya, bukan rutinitas tetap, melainkan sesekali dilakukan ketika ada waktu luang.
"Enggak juga sih. Enggak mesti sih, sebulan paling kadang sekali. Tapi enggak pasti juga sih," ujarnya.
Di tengah kesibukan kerja, Ika mulai menyadari pentingnya menjaga tubuh. Ia berseloroh tentang usianya yang menurutnya mulai menuntut perhatian lebih.
"Sekarang lebih ke sadar kesehatan aja sih, sudah mulai umur ya. Sudah mulai jompo," katanya sambil tertawa kecil.
Selain lari, ia mengaku hanya sesekali berolahraga lain seperti bulu tangkis.
"Itu sih paling bulu tangkis doang sih. Olahraga pagi cuma ini doang sih, CFD doang. Kalau Minggu doang," ujarnya.
Tak jauh dari lokasi Ika beristirahat, tiga pemuda tampak bersiap memulai lari. Di bawah rindangnya pohon, mereka melakukan pemanasan ringan.
Mereka adalah Harsya (18), Andika (18), dan Naufal (17), yang mengaku rutin berolahraga di kawasan Monas, meski baru kembali aktif belakangan ini.
"Sebenarnya baru mulai lagi sih di sini, tapi kalau misalnya mau ke GBK baru hari ini," ujar Harsya.
Harsya mengaku sudah cukup lama menjalani aktivitas lari, namun ia tak bisa mengingat pasti kapan memulainya.
"Sudah lama sih, Bang. Dari tahun berapa ya? 2024, 2025-an lah segitu," katanya.
Ketiganya berasal dari wilayah berbeda di Jakarta dan sekitarnya, namun memilih Monas sebagai titik kumpul.
Bagi mereka, olahraga di pagi hari menjadi cara sederhana untuk menjaga kebugaran sekaligus menyegarkan pikiran.
"Karena menurut gua lari itu, olahraga di pagi hari itu lebih bagus ya daripada gua tidur sampai siang gitu. Ya hitung-hitung gua refreshing otak lah gitu aja sih," ujar Harsya.
Andika menambahkan bahwa aktivitas di akhir pekan penting untuk menjaga stamina menghadapi hari kerja.
"Kan gua Sabtu tuh sudah ada waktu buat istirahat. Jadi Minggu kan gua butuh kegiatan lah buat badan gua lebih fresh lagi buat ngejalanin hari Senin," katanya.
Hal serupa disampaikan Naufal yang melihat olahraga sebagai cara mengembalikan energi setelah rutinitas padat.
"Kalau gua biar fresh aja sih, kan weekdays udah kerja atau sekolah gitu-gitu sudah capek, terus ada waktu weekend buat olahraga gitu," ujarnya.
Mereka juga menanggapi tren olahraga yang kerap dianggap sekadar mengikuti tren atau FOMO. Harsya menilai hal itu tak masalah selama membawa manfaat.
"Menurut gua ya FOMO nggak apa-apa ya, asal FOMO-nya baik gitu," kata Harsya.
"Bener sih, apalagi kalau misalnya FOMO-nya seenggaknya nggak ngerugiin orang lain, baik aja menurut gua sih," tambah Andika.
Pagi di Monas pun terus bergerak. Di atas aspal yang biasanya dipenuhi kendaraan, kini hanya ada langkah-langkah manusia yang berusaha menjaga dirinya tetap kuat.
Di antara napas yang terengah dan tawa yang ringan, terselip satu kesadaran tentang tubuh yang boleh menua, tetapi semangat untuk merawatnya tak boleh ikut melemah.




