Trump Ultimatum Iran: Hadapi Neraka Jika Tak Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam

bisnis.com
16 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kian tak terkendali setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran jika tidak segera berdamai.

Melansir BBC, Minggu (5/4/2026), Trump memperingatkan bahwa “neraka akan menghujani” Iran jika tidak segera mencapai kesepakatan, termasuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Respons keras datang dari militer Iran yang menyatakan kawasan akan berubah menjadi “neraka” jika eskalasi terus berlanjut.

Sementara itu, intensitas serangan terus meningkat. Iran kembali meluncurkan rudal ke wilayah Teluk, Irak, dan Israel pada Sabtu (4/4). Serangan balasan dari AS dan Israel menyasar fasilitas militer, energi, hingga industri di Iran, termasuk area sekitar pembangkit nuklir Bushehr.

Pada saat yang sama, pasukan AS dan Iran melakukan pencarian terhadap seorang awak Amerika yang hilang setelah jet tempur F-15 milik AS ditembak jatuh di wilayah selatan Iran pada Jumat. Media AS melaporkan pilot telah berhasil diselamatkan.

Otoritas Iran menyerukan kepada warga untuk menemukan warga Amerika yang hilang tersebut dalam kondisi “hidup” dan menawarkan imbalan bagi yang berhasil menangkapnya.

Baca Juga

  • Harga Minyak Melonjak usai Trump Ultimatum Sekutu Cari Pasokan Sendiri
  • Macron Minta Trump Serius Tangani Perang Iran: Jangan Banyak Omong
  • Trump Sebut AS Akan Tinggalkan Perang dalam 2-3 Minggu, Iran Tolak Negosiasi

Pesawat A-10 Warthog milik AS yang terlibat dalam misi pencarian dan penyelamatan juga ditembak dan mengalami kerusakan, meski pilotnya berhasil dievakuasi dengan selamat.

Pada 27 Maret, Trump mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap fasilitas energi selama 10 hari guna memberi kesempatan bagi Iran untuk “membuat kesepakatan”.

Namun pada Sabtu, melalui platform Truth Social, ia kembali menegaskan bahwa “neraka akan menghujani mereka” jika Iran tidak memenuhi tuntutan tersebut atau membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam.

Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, menyatakan jika permusuhan meningkat, seluruh kawasan akan berubah menjadi neraka bagi AS.

”Ilusi untuk mengalahkan Republik Islam Iran akan berubah menjadi rawa yang menenggelamkan Anda,” ungkap Ebrahim seperti dilansir BBC, Minggu (5/4/2026).

Ketegangan ini terjadi di tengah konflik bersenjata yang telah berlangsung lebih dari satu bulan dan secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.

Penutupan jalur tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak dari US$73 per barel menjadi di atas US$100 dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Pada Jumat, kapal pengangkut milik perusahaan Prancis menjadi kapal pertama dari perusahaan besar Eropa Barat yang melintasi selat tersebut sejak konflik dimulai.

Meski Iran menyatakan kapal “non-hostil” tetap diizinkan melintas, konflik yang terus berlangsung dan serangan terhadap sejumlah kapal telah melumpuhkan aktivitas pelayaran normal.

Sementara itu, AS dan Israel pada Sabtu melanjutkan serangan udara terhadap target militer, energi, dan industri di Iran.

Trump juga membagikan video di Truth Social yang diklaim menunjukkan “serangan besar” ke Teheran, meski rekaman tersebut diduga berusia 24 jam.

Dalam unggahannya, Trump menyebut “banyak pemimpin militer Iran, yang memimpin dengan buruk dan tidak bijak, telah dilenyapkan, bersama banyak hal lainnya” pascaserangan tersebut.

Teheran belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut, sementara pihak AS juga belum merilis rincian tambahan.

Israel melaporkan adanya ledakan di atas Yerusalem, sementara Iran terus melancarkan serangan rudal ke negara-negara Teluk dan Irak.

Iran meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel bagian tengah pada Sabtu.

Teheran juga menyatakan area sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr kembali diserang untuk keempat kalinya sejak perang dimulai.

Organisasi Energi Atom Iran melaporkan satu pekerja tewas dalam serangan tersebut, seraya menyalahkan AS dan Israel, meski keduanya belum mengonfirmasi keterlibatan.

Bushehr merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir operasional Iran, yang dibangun dengan dukungan Rusia.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan telah menerima laporan serangan tersebut dan mengungkapkan “keprihatinan mendalam”.

“Tidak ada peningkatan tingkat radiasi yang dilaporkan,” tulis lembaga itu di platform X.

IAEA menegaskan fasilitas nuklir dan area sekitarnya “tidak boleh diserang” serta menyerukan “penahanan militer maksimum” guna mencegah risiko kecelakaan nuklir.

Pernyataan Iran menegaskan bahwa bagian utama fasilitas tidak mengalami kerusakan dan operasionalnya “tidak terpengaruh”.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jenazah dua prajurit TNI yang gugur di Lebanon diserahkan ke keluarga
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Respons Pemprov DKI Jakarta soal Viral Foto Tindak Lanjut Aduan JAKI Diduga Hasil Edit AI
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Suasana Haru di Lanud Adisutjipto, Sultan HB X dan Wakil Panglima TNI Sambut Jenazah Farizal
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pesan Paskah Teddy Indra Wijaya: Harapan Kebangkitan
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
Demi Finis Posisi Terbaik, PSIM Kejar Kemenangan di 8 Laga Tersisa BRI Super League
• 10 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.