Fed Masih Bisa Sunat Suku Bunga Meski Ada Lonjakan Harga Minyak, Ini Alasannya!

metrotvnews.com
12 jam lalu
Cover Berita

New York: Perusahaan jasa keuangan global, Morgan Stanley memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve akan melanjutkan pemotongan suku bunga pada 2026 meskipun terjadi guncangan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak baru-baru ini.

Mengutip Investing.com, Minggu, 5 April 2026, Morgan Stanley menyampaikan hal tersebut lantaran tekanan kenaikan harga-harga barang dinilai tetap terkendali dan tidak mungkin menggagalkan tren disinflasi yang lebih luas.

Dalam catatannya tersebut, Morgan Stanley mengatakan variabel kunci bagi para pembuat kebijakan bukanlah inflasi, yang telah didorong lebih tinggi oleh harga energi, tetapi ekspektasi inflasi jangka panjang yang tetap terkendali. 

Sejauh ini, menurut Morgan Stanley, ekspektasi tersebut tetap relatif stabil, bahkan ketika indikator inflasi jangka pendek telah melonjak drastis sebagai respons atas kenaikan harga minyak yang fantastis.  

Laporan tersebut menyoroti meskipun ekspektasi inflasi dalam satu tahun telah mengalami peningkatan, tapi hal ini disebabkan oleh tekanan harga energi yang bersifat sementara, bukan pergeseran struktural dalam dinamika inflasi.

Sementara berdasarkan ekspektasi jangka panjang, yang dipantau ketat oleh The Fed, tetap mendekati level sebelum pandemi, menunjukkan kredibilitas seputar pengendalian inflasi masih terjaga.  

Skenario Morgan Stanley mengasumsikan dampak terbatas dari kenaikan harga minyak terhadap inflasi inti, yang tidak termasuk komponen pangan dan energi yang volatil. Akibatnya, The Fed kemungkinan akan mengabaikan lonjakan biaya energi saat ini, asalkan ada kemajuan berkelanjutan dalam ukuran inflasi yang mendasar.
  Baca juga: Bank Sentral Global Kompak Tahan Suku Bunga Akibat Ketidakpastian Prospek Ekonomi

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
  Fed mulai longgarkan kebijakannya di akhir 2026
Bank tersebut juga mencatat kondisi keuangan telah mengencang secara signifikan sejak dimulainya konflik di Timur Tengah, dengan dampak gabungan dari dolar yang lebih kuat, harga minyak yang lebih tinggi, dan premi risiko ekuitas yang meningkat setara dengan kenaikan suku bunga sekitar 80 basis poin. Pengetatan ini mengurangi kebutuhan untuk melakukan pengetatan kebijakan tambahan dari The Fed.  

Dengan latar belakang ini, Morgan Stanley memperkirakan The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan pada akhir 2026, dengan kemungkinan pemotongan suku bunga pada paruh kedua tahun ini seiring dengan melambatnya pertumbuhan dan inflasi yang secara bertahap mendingin. Bank sentral diproyeksikan akan melakukan dua kali pemotongan sebesar 25 basis poin, sehingga suku bunga kebijakan akan turun ke kisaran 3,0 persen sampai 3,25 persen.

Namun, prospeknya bergantung pada ekspektasi inflasi yang tetap terkendali. Kenaikan ekspektasi jangka panjang yang berkelanjutan dapat memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, terutama jika guncangan energi mulai memengaruhi perilaku penetapan harga secara lebih luas.

Untuk saat ini, pandangan Morgan Stanley menunjukkan guncangan harga minyak meskipun berdampak signifikan bagi pasar dan konsumen, kemungkinan besar tidak akan secara mendasar mengubah arah pelonggaran kebijakan The Fed.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Insiden Pohon Tumbang, Farhan Sampaikan Ucapan Duka dan Instruksikan Kewaspadaan
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
11 Prajurit TNI Jadi Korban Serangan di Lebanon, RI Desak PBB Jamin Keamanan Pasukan Perdamaian
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Meski Tanpa Penonton, Bali United Siap Kendalikan Pertandingan Lawan PSBS Biak
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
JK Bantah Tuduhan Rismon Danai Roy Suryo Cs Rp5 Miliar Mainkan Ijazah Jokowi
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Perang Iran Hambat Investasi AI Big Tech Senilai Rp10.800 Triliun
• 11 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.