Saat Melamun Jadi Pelarian: Maladaptive Daydreaming

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Seminggu terakhir, waktu yang saya habiskan di Instagram mencapai 12 hingga 21 jam. Tanpa saya sadari, kebiasaan ini menjadi pintu masuk ke maladaptive daydreaming, kondisi ketika melamun berubah menjadi pelarian dari realitas.

Dalam lamunan itu, saya bisa bertemu orang-orang yang tidak pernah saya kenal, pergi ke tempat yang tidak pernah saya kunjungi, bahkan merasakan emosi yang selama ini saya hindari di kehidupan nyata. Saya tidak sekadar melamun. Saya hidup di dalamnya.

Fenomena ini dikenal sebagai maladaptive daydreaming, istilah yang diperkenalkan oleh Eli Somer pada 2002. Kondisi ini merujuk pada aktivitas melamun yang begitu intens dan mendalam hingga mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, termasuk hubungan sosial, akademik, dan pekerjaan.

Berbeda dari lamunan biasa, maladaptive daydreaming melibatkan alur cerita yang kompleks, karakter yang diciptakan sendiri, serta keterlibatan emosional yang kuat. Dalam pengalaman saya, lamunan tersebut sering kali terasa lebih “hidup” dibandingkan realitas itu sendiri. Saya bisa tertawa, menangis, bahkan berbicara sendiri saat terlarut di dalamnya.

Namun, di balik kenyamanan semu tersebut, ada konsekuensi yang perlahan mengganggu kehidupan nyata. Tugas-tugas tertunda, waktu terbuang, dan kebutuhan dasar seperti makan atau tidur sering kali terabaikan. Ada dorongan kuat untuk terus melamun, terutama ketika saya merasa cemas, kesepian, atau ingin menghindari tanggung jawab.

Fenomena ini tidak hanya saya alami sendiri. Di tengah meningkatnya penggunaan media sosial dan konsumsi konten digital, terutama di kalangan anak muda, maladaptive daydreaming berpotensi menjadi isu yang lebih luas. Konten visual dan musik yang mudah diakses dapat menjadi stimulus kuat yang memicu lamunan berkepanjangan.

Ironisnya, meskipun aktivitas ini memberikan pelarian sementara, perasaan yang muncul setelahnya justru sering kali negatif—rasa bersalah, malu, dan penyesalan karena waktu yang terbuang. Dalam beberapa kasus, dorongan untuk kembali melamun bahkan menyerupai pola kompulsif, yang membuat individu sulit melepaskan diri dari kebiasaan tersebut.

Hingga saat ini, maladaptive daydreaming belum secara resmi diklasifikasikan sebagai gangguan mental dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya keterkaitan dengan kondisi lain seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD), disosiasi, dan ADHD. Penanganan yang digunakan pun masih mengacu pada pendekatan umum, seperti cognitive behavioral therapy (CBT), mindfulness, hingga teknik exposure and response prevention (ERP).

Saya sendiri pernah mencoba menghentikan lamunan dengan mengubah alur cerita menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Namun, alih-alih berhasil, yang muncul justru perasaan kehilangan—seolah saya belum siap untuk benar-benar meninggalkan dunia yang selama ini menjadi pelarian saya.

Di sinilah letak dilema yang mungkin juga dirasakan oleh banyak orang: antara keinginan untuk kembali pada realitas dan kebutuhan untuk melarikan diri darinya.

Maladaptive daydreaming mungkin belum banyak dibicarakan, tetapi bukan berarti tidak nyata. Pengalaman ini menunjukkan bahwa tidak semua pelarian bersifat kasat mata. Ada yang terjadi diam-diam, di dalam pikiran, namun dampaknya bisa sangat nyata.

Mungkin, yang kita butuhkan bukan hanya upaya untuk “berhenti melamun”, tetapi juga keberanian untuk memahami apa yang sebenarnya ingin kita hindari dalam kehidupan nyata.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Tips Agar Foundation Anti Cakey dan Dapat Hasil Flawless
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
Dari Tontonan ke Tuntunan: Saat Agama Dipelajari dari Algoritma
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Menlu Minta PBB Jamin Keamanan Prajurit TNI yang Bertugas Menjaga Perdamaian di Lebanon
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemerintah terus Distribusikan Bantuan untuk Korban Bencana di Aceh Tamiang
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Perintah Panglima Agar Prajurit TNI Masuk Bunker karena Israel Berulah
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.