DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) menilai langkah Panglima TNI yang memerintahkan prajurit Indonesia di Libanon untuk berlindung di bunker sebagai respons cepat dan terukur di tengah situasi keamanan yang kian memburuk.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyebut instruksi tersebut mencerminkan keseriusan pimpinan TNI dalam memastikan keselamatan personel tanpa mengabaikan mandat misi perdamaian.
“Langkah ini menunjukkan bahwa keselamatan personel ditempatkan sebagai prioritas utama, sekaligus memastikan mandat perdamaian tetap dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan disiplin,” kata Dave kepada wartawan, Minggu (5/4).
Baca juga : Tak Cukup Mengecam, PBB Diminta Tegas Tangani Kasus Kematian 3 Prajurit UNIFIL Asal Indonesia oleh Israel
Ia menambahkan, kondisi di Libanon memang memiliki tingkat risiko tinggi sehingga setiap kebijakan di lapangan harus berorientasi pada perlindungan prajurit.
“Instruksi tersebut adalah bagian dari evaluasi menyeluruh yang terus dilakukan agar pasukan kita tetap dapat menjalankan tugas dengan aman dan efektif,” ujarnya.
Terkait kemungkinan penarikan pasukan, politisi Partai Golkar itu menegaskan keputusan tersebut tidak bisa diambil secara tergesa-gesa.
Baca juga : Keluarga Prajurit TNI yang Gugur di Libanon akan Terima Santunan Rp 1,8 Miliar dan Penghargaan
“Penarikan pasukan tentu bukan keputusan yang diambil secara tergesa-gesa, melainkan harus melalui pertimbangan strategis antara TNI, Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ucapnya.
Dave juga menekankan Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas keamanan global. Menurutnya, keterlibatan prajurit TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) merupakan wujud nyata kontribusi Indonesia dalam diplomasi pertahanan.
“Indonesia memiliki komitmen kuat untuk menjaga perdamaian dunia, dan kehadiran prajurit TNI di UNIFIL adalah wujud nyata dari komitmen tersebut,” ungkapnya.
Sebelumnya, Panglima TNI Agus Subiyanto memerintahkan seluruh prajurit yang bertugas di Libanon untuk tetap berada di dalam bunker guna mengantisipasi serangan terhadap markas pasukan perdamaian PBB.
Dalam sesi video call dengan Komandan Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL, Agus meminta prajurit menghentikan seluruh aktivitas di luar markas.
“Jaga moral prajurit yang ada di sana, tetap melaksanakan pengamanan intern, masuk ke bunker-bunker dan tidak ada kegiatan yang lagi keluar,” ujarnya.
Arahan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Libanon selatan yang telah menelan korban jiwa dari prajurit TNI. Tiga prajurit dilaporkan gugur dalam insiden terpisah saat menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian.
Situasi ini menegaskan tantangan berat yang dihadapi pasukan Indonesia dalam menjaga perdamaian di wilayah konflik, sekaligus memperkuat urgensi langkah-langkah perlindungan maksimal bagi personel di lapangan. (Z-2)





