Kemenperin Waspadai Risiko Inflasi Imbas Gejolak Rantai Pasok Industri

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperingatkan ketidakpastian global akibat perang.

Kemenperin Waspadai Risiko Inflasi Imbas Gejolak Rantai Pasok Industri. (Foto: Mehr News)

IDXChannel - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperingatkan ketidakpastian global akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran turut menekan rantai pasok, yang salah satunya dipengaruhi pada berkurangnya pasokan bahan baku sejumlah industri. 

Akibatnya, inflasi harga berpotensi terjadi di dalam negeri.

Baca Juga:
Inflasi Maret 0,41 Persen, Lebih Rendah Dibanding Februari 0,68 Persen

Dari data yang dihimpun Kemenperin bahwa secara global survei Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur menunjukkan tekanan inflasi meningkat dan rantai pasok terganggu akibat konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah, yang berdampak pada kenaikan biaya energi dan bahan baku.

“Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang dalam keterangan resmi, Minggu (5/4/2026).

Baca Juga:
The Fed Tahan Sikap, Cermati Lonjakan Harga Energi ke Inflasi

Pada Maret 2026, tercatat adanya penurunan pada output dan pesanan baru, seiring dengan terganggunya pasokan bahan baku dan meningkatnya harga bahan baku. Selain itu, waktu pengiriman bahan baku mengalami keterlambatan paling tajam sejak Oktober 2021.

Tekanan biaya juga meningkat signifikan, dengan inflasi harga bahan baku mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini mendorong produsen untuk menyesuaikan harga jual guna menjaga keberlanjutan usaha.

Baca Juga:
Pemerintah Klaim Berhasil Jaga Inflasi Selama Ramadan, Idulfitri, hingga Nyepi 2026

Meski demikian, Kemenperin mencatat bahwa sektor manufaktur nasional kembali menunjukkan ketahanannya di tengah ketidakpastian kondisi global seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta kenaikan harga bahan baku. 

Hal ini merujuk kembali pada capaian PMI Indonesia pada Maret 2026 yang berada di level 50,1 atau masih berada di zona ekspansi.

“Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air,” ujar Agus. (Wahyu Dwi Anggoro)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemarin, aespa sapa penggemar di Jakarta hingga diler Honda tutup
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Rayakan HUT ke-14, Pupuk Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan dengan Kapasitas 14,8 Juta Ton per Tahun
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Punya Kualitas di Atas Ole Romeny, Timnas Indonesia Segera Perkenalman Bomber Naturalisasi Luke Vickery
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Andre Rosiade Respons Kritik BEM Unand ke Prabowo: Silakan tapi Gunakan Adab
• 4 jam laludetik.com
thumb
Demokrat AS Kritik Trump: Pangkas Anggaran Domestik Demi Biayai Perang
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.