CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait kesepakatan nuklir.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menegaskan bahwa Iran hanya memiliki waktu terbatas untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi konsekuensi serius.
"Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz," kata Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, Sabtu (4/4).
"Waktu hampir habis — 48 jam sebelum neraka menimpa mereka," ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah sebelumnya, pada 26 Maret, Trump memperpanjang tenggat negosiasi nuklir menjadi 10 hari. Keputusan itu diambil setelah Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz.
Situasi di kawasan semakin memanas sejak serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di Yordania, Irak, dan kawasan Teluk.
Tidak hanya itu, Iran juga mulai membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan salah satu titik paling strategis di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.
Langkah pembatasan ini memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan distribusi energi, yang dapat berdampak langsung pada harga minyak dunia.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dunia kini menyoroti apakah diplomasi masih dapat meredakan konflik atau justru memperburuk eskalasi yang sudah terjadi.
Sumber: Anadolu




