JAKARTA, KOMPAS– Paskah dimaknai sebagai kebangkitan bagi setiap orang untuk kembali membangun kesadaran moral di tengah berbagai persoalan dunia. Kesadaran moral yang tinggi akan mendorong manusia untuk memperjuangkan kebaikan bersama sekaligus merawat bumi lewat tindakan yang nyata.
“Paskah tidak hanya kita rayakan setahun sekali, tetapi kita rayakan setiap hari. Karena Paskah adalah perjalanan meninggalkan kegelapan, menyambut terang,” ujar Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo dalam homili Misa Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga, Katedral, Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Dalam homili atau khotbahnya, Kardinal Suharyo mengatakan, realitas dunia saat ini menunjukkan kondisi yang tidak baik-baik saja. Berbagai persoalan tengah terjadi, seperti perang, krisis sosial, hingga kerusakan lingkungan.
Di Indonesia secara khusus, persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) pun masih menjadi persoalan besar. Persoalan tersebut bahkan memberikan dampak lanjutan yang terus dirasakan masyarakat, mulai dari kekerasan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan.
“Akar dari semua itu adalah kesadaran moral, moral pribadi, moral sosial yang semakin luntur,” kata Kardinal Suharyo. Hal itu pula yang dinilai dapat digambarkan secara simbolik sebagai kondisi kegelapan,” ucapnya.
Mengutip Kitab Surat Rasul Paulus, Maria Magdalena ke kubur Yesus saat hari masih gelap. Itu dapat dimaknai sebagai kondisi ketika manusia membiarkan diri dikuasai oleh kegelapan dengan perilaku yang tidak bermoral.
Akar dari semua itu adalah kesadaran moral, moral pribadi, moral sosial yang semakin luntur.
Dalam konteks itulah, Kardinal Suharyo menambahkan, lilin Paskah yang baru punya makna sebagai terang yang mendorong setiap orang untuk meninggalkan perilaku kegelapan sebelumnya. Terang itu juga yang membuat setiap orang tidak lelah membangun kembali keadaan yang rusak dengan kembali membangun perilaku yang bermoral tinggi.
Perilaku bermoral yang diharapkan antara lain, hormat terhadap martabat manusia, tanggung jawab untuk mewujudkan kebaikan bersama, tanggung jawab untuk mengembangkan solidaritas, memberikan perhatian lebih pada sesama yang miskin dan tersingkir, serta bertanggung jawab merawat bumi sebagai rumah bersama.
“Gagasan-gagasan besar ini mesti dirinci dalam gagasan-gagasan yang lebih kecil. Dan, (itu) diwujudkan di dalam berbagai gerakan dengan menjawab pertanyaan ini, apa yang harus kita lakukan supaya perayaan Paskah tahun ini sungguh bermakna bagi dunia, bagi bangsa dan negara kita, bagi kemanusiaan yang sedang tidak baik-baik saja?” ujar Kardinal Suharyo.
Ia juga mengajak agar setiap masyarakat terus mendorong perdamaian dunia. Secara tegas, mengutip pernyataan Paus Leo XIV, ia menuturkan bahwa doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan.
Perang yang terjadi saat ini tidak memberikan buah apa pun bagi manusia. Sebaliknya, perang memberikan akibat yang sangat buruk bagi dunia, bumi, dan seluruh umat manusia. Kegelapan pun tampil dalam pemimpin-pemimpin yang menjadikan peperangan terjadi.
Meski begitu, manusia harus tetap berharap bahwa di tengah kegelapan selalu ada terang, sekalipun terang yang hadir hanya kecil. Setiap orang juga dapat menjadi terang itu sendiri lewat hal sederhana bagi sesama.
Kardinal Suharyo, dalam konferensi pers, juga menegaskan bahwa keserakahan dapat menjadi pangkal dari berbagai krisis sosial-lingkungan. “Tapi, selama dunia ini penuh dengan keserakahan, bukan hanya pribadi tetapi sebagai bangsa, apalagi keserakahan itu didukung oleh senjata, habislah namanya keadaban,” ucapnya.
Keserakahan tersebut yang turut menyebabkan krisis ekologis yang semakin mengancam kehidupan manusia. Itu mulai dari deforestasi, pencemaran air, krisis iklim, bencana ekologis, serta hilangnya keanekaragaman hayati.
Secara terpisah, Ketua Umum Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Jacklevyn F Manuputty, dalam pernyataan tertulis, mengatakan, paskah sebagai kebangkitan Kristus telah membuka jalan bagi pembaruan manusia dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Kemanusiaan yang diperbarui merupakan kemanusiaan yang berlandaskan kasih, keadilan, perdamaian, dan solidaritas.
“Kristus yang bangkit memanggil kita keluar dari pola hidup lama yang menyuburkan sikap egois, kebencian, ketidakpedulian, ketidakadilan, dan kekerasan, menuju pada kehidupan baru yang memancarkan kasih dan memanusiakan sesama serta menghargai seluruh ciptaan,” tuturnya.





