Keuskupan Agung Jakarta mengungkap ada berbagai cara menjaga lingkungan dan bumi dari kerusakan. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo Uskup Keuskupan Agung Jakarta mengatakan, cara menjaga lingkungan tidak sekedar menanam pohon, tapi ada tindakan lain yang bisa dilakukan.
Contohnya bagaimana Keuskupan Agung Jakarta mengelola uang sambil menjaga bumi.
“Gereja tidak akan pernah menyimpan uang untuk membeli saham di pabrik senjata. Atau di perusahaan yang merusak lingkungan, tidak akan. Karena dengan menanam saham di perusahaan yang merusak lingkungan, gereja merasa ikut menanggung konsekuensinya yang tidak bagus,” kata Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo pada konferensi pers Keuskupan Agung Jakarta di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Praktik lainnya yang dilakukan di Gereja Katedral Jakarta adalah mengumpulkan sampah dan minyak jelantah. Langkah-langkah nyata ini dianggap penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih.
“Di wilayah Katedral ini kalau melihat hal-hal kecil sekali, ada plastik dikumpulkan, ada minyak jelantah dikumpulkan, sederhana sekali. Ada pohon-pohon yang ditanam dan sebagainya. Tidak membuang makanan,” ujarnya.
Menurut Uskup, hal-hal kecil tersebut perlu dibangun untuk menimbulkan kesadaran kolektif. Katanya kesadaran ini perlu ditumbuhkan, apalagi soal kebiasaan menghabiskan makanan dan tidak membuangnya.
“Kalau tidak salah membaca dari pusat Badan Pusat Statistik Nasional dari tahun 2019 sampai 2024 itu sampai makanan yang dibuang itu mulai dari 219 triliun rupiah kalau diuangkan, dan tahun 2024 itu sampai Rp551 triliun. Itu makanan yang dibuang di negeri kita,” pungkasnya.
Sementara Badan Pangan Nasional (BPN) menegaskan pentingnya peran seluruh pemangku kepentingan, menekan angka susut dan sisa pangan (SSP) atau Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia.
Katanya pelaku sistem pangan perlu menyadari betapa berharganya setiap butir pangan yang tersaji di meja makan. Tercatat pada 2025, sisa makanan di Indonesia mencapai 23–48 juta ton per tahun, setara 115–184 kg per orang per tahun. Jika dimanfaatkan sebagai edible food waste, jumlah itu cukup memberi makan 61–125 juta orang, atau sekitar 29–47 persen populasi Indonesia.(lea/ham)




