Penulis: Fityan
TVRInews – Washington DC
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan mengunjungi Gedung Putih pekan depan guna meredam retorika tajam Presiden Trump terkait aliansi
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dijadwalkan bertolak ke Washington pada Rabu 8 April 2026 mendatang untuk melangsungkan pertemuan krusial dengan Presiden Donald Trump.
Pertemuan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi diplomatik menyusul kritik tajam Trump terhadap aliansi militer tersebut, khususnya terkait dinamika konflik di Iran.
Berdasarkan pernyataan resmi dari kantor Sekretaris Jenderal, Rutte tidak hanya akan bertemu dengan Presiden Trump, tetapi juga diagendakan melakukan pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Langkah diplomasi ini diambil hanya beberapa hari setelah Trump melontarkan pernyataan kontroversial dalam wawancaranya dengan The Telegraph pada Minggu 5 April 2026.
Ia menyebut NATO sebagai "macan kertas" dan mengisyaratkan kemungkinan penarikan diri Amerika Serikat dari pakta pertahanan yang telah berdiri sejak 1949 tersebut.
"Saya tidak pernah goyah oleh NATO. Saya selalu tahu mereka adalah macan kertas," ujar Trump dalam wawancara tersebut.
Ketegangan Terkait Selat Hormuz
Inti dari kegusaran Washington berakar pada kurangnya dukungan negara-negara Eropa terhadap operasi militer gabungan AS-Israel di Iran.
Trump dilaporkan sangat kecewa terhadap sekutu tradisional yang dinilai enggan membantu pengamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang kini lumpuh akibat perang dan berdampak signifikan pada pasokan minyak global.
Dalam wawancara lanjutan dengan POLITICO, Trump secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap organisasi tersebut.
"Saya tidak memiliki pemikiran spesifik tentang NATO. Saya hanya kecewa pada mereka," tutur Trump. "Jika suatu saat saya membutuhkan mereka, mereka tidak akan ada di sana. Padahal, kita menyetor banyak uang setiap tahunnya."
Upaya Penyeimbangan Diplomasi
Meski retorika dari Gedung Putih memanas, Mark Rutte secara konsisten berupaya menjaga hubungan baik dengan Trump.
Dalam wawancaranya dengan CBS News pada Maret lalu, Rutte sempat memuji upaya Trump dalam menjaga keamanan global dan menyatakan keyakinannya bahwa Eropa akan bersatu mendukung rencana presiden di Iran.
Namun, sikap Rutte yang dianggap terlalu akomodatif terhadap Trump mulai memicu kegelisahan di internal negara-negara anggota NATO lainnya.
Hal ini diperparah dengan sikap Trump yang cenderung terbuka untuk bernegosiasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait pengakhiran perang di Ukraina.
Hingga saat ini, pejabat dari kedua belah pihak menyatakan bahwa belum ada persiapan administratif formal bagi AS untuk meninggalkan NATO.
Namun, pertemuan di Gedung Putih pekan depan akan menjadi ujian berat bagi Rutte untuk membuktikan relevansi aliansi ini di mata pemerintahan Trump yang semakin skeptis.
Editor: Redaksi TVRINews





