Bisnis.com, JAKARTA — Industri hilir plastik nasional tengah menempuh langkah darurat guna meredam lonjakan harga bahan baku akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pengetatan formula campuran produk menjadi salah satu strategi yang disarankan bagi produsen agar harga jual di tingkat konsumen tetap terjangkau di tengah fluktuasi harga minyak mentah global.
Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendorong para pelaku industri untuk melakukan inovasi pada komposisi bahan baku. Salah satu langkah konkretnya adalah meningkatkan porsi konten daur ulang (recycled content) dari sebelumnya hanya 5%—10% menjadi 10%—30%.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan bahwa langkah mitigasi ini mendesak dilakukan untuk menyiasati "harga normal baru" yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Selain daur ulang, industri juga disarankan menggunakan material pengisi (filler) seperti kapur, kalsium karbonat, talek, hingga silika untuk menekan biaya tanpa menghilangkan fungsi utama plastik.
"Kita harus bisa mengontrol apa yang bisa kita lakukan agar barang jadi plastik ini tetap terjangkau. Caranya adalah dengan inovasi, termasuk melakukan down-gauging atau pengurangan ketebalan dan dimensi produk," ujar Fajar kepada Bisnis, dikutip Minggu (5/4/2026).
Kondisi pasar saat ini, menurut Fajar, mulai menunjukkan pola anomali yang menyerupai krisis hebat pada tahun 1998 dan 2008. Meski saat ini selisih harga terendah dan tertinggi bahan baku mulai menyempit ke level US$400 per ton, tren fluktuasi ekstrem tetap membayangi.
Baca Juga
- Pengusaha Cari Bahan Baku Plastik ke Afrika, Durasi Pengiriman jadi 50 Hari
- Industri Plastik RI Dibayangi Krisis Bahan Baku hingga PHK Massal
- Imbas Perang Timur Tengah, Pedagang Plastik Keluhkan Lonjakan Harga
Sebagai gambaran, pada krisis 2008, harga bahan baku melonjak dari US$800 ke level ekstrem US$2.100 per ton sebelum akhirnya mendarat di titik keseimbangan baru US$1.000 per ton. Fajar memproyeksikan, meskipun perang di Timur Tengah mereda, harga plastik tidak akan kembali ke level semula, melainkan akan menetap di angka yang lebih tinggi.
Lonjakan harga yang menekan industri ini berhulu dari konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat. Ketegangan di Jazirah Arab tersebut memicu harga minyak mentah jenis Brent menembus level US$100 per barel.
Dampak paling signifikan terasa pada jalur logistik Selat Hormuz. Sebagai urat nadi yang menopang 70% pasokan minyak global, pembatasan di jalur ini menghambat distribusi sekitar 102 juta barel per hari. Akibatnya, harga komoditas turunan seperti polypropylene telah meroket hingga 250% sejak awal tahun.
Di sektor hulu, pengusaha kini mulai melirik alternatif Nafta dengan memanfaatkan kondensat, LPG, atau propan. Inaplas juga mendesak pemerintah melakukan kajian ulang terhadap pasokan impor dari negara non-Timur Tengah, termasuk melirik China yang saat ini tengah mengalami surplus pasokan.
"Pemerintah tidak bisa mengintervensi dinamika global ini secara langsung. Jadi yang bisa kita kontrol adalah mitigasi alternatif pasokan dan bahan baku. Itu yang perlu dikaji bersama," pungkas Fajar.





