Sektor Non-Migas Mesir Tertekan Perang Timur Tengah, PMI Turun ke Level Terendah Dua Tahun

idxchannel.com
17 jam lalu
Cover Berita

Sektor swasta non-migas Mesir mengalami penurunan pada laju tercepat dalam hampir dua tahun pada Maret.

Sektor Non-Migas Mesir Tertekan Perang Timur Tengah, PMI Turun ke Level Terendah Dua Tahun. Foto: Freepik.

IDXChannel - Sektor swasta non-migas Mesir mengalami penurunan pada laju tercepat dalam hampir dua tahun pada Maret. Perang di Timur Tengah mendorong kenaikan biaya dan melemahkan permintaan klien.

Melansir Investing, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Mesir yang dirilis S&P Global turun untuk bulan keempat berturut-turut, menjadi 48,0 pada Maret dari 48,9 pada Februari, menjadi level terendah sejak April 2024.

Baca Juga:
Meski Melambat, Menperin Sebut Manufaktur RI Tangguh di Tengah Tekanan Global

Angka tersebut juga berada di bawah ambang batas 50 yang merupakan tanda kontraksi, meskipun secara umum masih sejalan dengan rata-rata jangka panjang survei sebesar 48,2.

Output (produksi) dan pesanan baru menjadi faktor utama yang menekan indeks, dengan keduanya juga mencapai level terendah dalam hampir dua tahun. Perusahaan mengatakan konflik Timur Tengah mendorong melemahnya permintaan klien, sebagian karena meningkatnya tekanan harga.

Baca Juga:
Rantai Pasok Terganggu, PMI Manufaktur RI Nyaris Stagnan

Untuk pertama kalinya, ekspektasi bisnis untuk 12 bulan ke depan turun ke wilayah negatif, dengan perusahaan menyebut ketidakpastian akibat perang sebagai alasan utama pesimisme, meskipun tingkatnya masih ringan.

Baca Juga:
Menperin Sebut Sektor Manufaktur Masih Tangguh di Tengah Dinamika Ekonomi Global

Ekonom senior di S&P Global Market Intelligence, David Owen, memberi catatan bahwa angka 48,0 masih berkaitan dengan pertumbuhan PDB tahunan sekitar 4,3 persen. Data terbaru juga menunjukkan sektor domestik non-migas berada pada jalur pertumbuhan yang kuat secara mendasar.

Namun, tekanan biaya tetap menjadi kekhawatiran serius. Harga input melonjak pada laju tercepat dalam satu setengah tahun terakhir, karena perusahaan menyebut adanya kenaikan biaya bahan bakar dan komoditas lain terkait perang, yang diperparah oleh menguatnya dolar AS.

Sebagai respons, perusahaan menaikkan harga jual mereka pada laju tercepat dalam 10 bulan terakhir, meskipun kenaikan tersebut secara keseluruhan masih tergolong moderat.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saluran Cerna Anak Bermasalah Bisa Ganggu Penyerapan Nutrisi-Daya Tahan Tubuh
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Malaysia Airlines Perkuat Jaringan Asia Timur dengan Kembalinya Rute Fukuoka, Peluncuran Rute Baru dan Peningkatan Frekuensi di Pasar Utama
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Pemerintah Tunda Bahas Kenaikan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat
• 14 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Hemat Energi, Ini Transformasi Budaya Kerja ASN Pemprov Jateng
• 4 jam laludetik.com
thumb
Kapolres Toraja Utara Tegaskan Proses Hukum Oknum Anggota dalam Pengeroyokan di Valerie Cafe
• 11 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.