TEHERAN, KOMPAS.TV – Konflik Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru yang kian kompleks.
Iran kini secara terbuka mensyaratkan pembayaran kompensasi atas kerusakan perang sebagai prasyarat untuk membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ancaman militer dari Washington.
Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Bidang Komunikasi di Kantor Presiden Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, yang menegaskan bahwa Teheran tidak akan membuka selat tersebut tanpa adanya mekanisme ganti rugi melalui “rezim hukum baru” berbasis biaya transit.
Baca Juga: Selasa Jadi Hari Serangan, Trump Ancam Hantam Infrastruktur Iran jika Hormuz Tak Dibuka
Langkah ini mempertegas bahwa konflik tidak lagi sekadar militer, tetapi juga telah bergeser ke ranah ekonomi dan hukum internasional.
Dilansir dari Al Jazeera, Minggu (5/4/2026), Tabatabaei menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz—yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia—hanya akan dilakukan jika Iran menerima kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh perang.
Skema yang diusulkan mencakup sistem biaya transit baru sebagai bentuk penggantian kerugian, sebuah langkah yang berpotensi mengubah dinamika perdagangan energi global jika benar-benar diterapkan.
Pernyataan Iran ini muncul sebagai respons langsung terhadap ancaman terbaru Presiden Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan akan menyerang infrastruktur sipil Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Tabatabaei menilai pernyataan Trump sebagai bentuk frustrasi dan kemarahan, bahkan menyebutnya sebagai retorika yang tidak pantas dalam situasi konflik yang sensitif.
Tidak hanya melalui pernyataan domestik, Iran juga membawa isu ini ke forum internasional.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV/Al Jazeera
- Iran kompensasi perang Hormuz
- Iran syarat buka Selat Hormuz
- konflik Iran AS terbaru 2026
- Trump ancam Iran infrastruktur
- Iran PBB kejahatan perang
- krisis Selat Hormuz




