Wall Street Bersiap Hadapi Data Inflasi di Tengah Bayang Perang di Timur Tengah

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Data inflasi dan laporan keuangan emiten yang dirilis pekan ini diperkirakan mulai mencerminkan dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi Amerika Serikat dan kinerja korporasi. Di sisi lain, investor berharap perhatian pasar perlahan beralih dari konflik yang selama ini mendominasi sentimen.

Mengutip Reuters, Senin (6/4), pergerakan indeks saham utama di Wall Street terpantau ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (2/4). Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 0,13 persen menjadi 46.504,67 poin, S&P 500 (.SPX) naik 0,11 persen menjadi 6.582,69 poin, dan Nasdaq Composite (.IXIC) menguat 0,18 persen ke level 21.879,18.

Secara mingguan, kinerja pasar saham mencatat penguatan. S&P 500 naik 3,36 persen, Nasdaq melonjak 4,44 persen, dan Dow Jones bertambah 2,96 persen. Sementara itu, indeks saham small caps Russell 2000 turut naik 3,19 persen.

Pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait arah konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan, menyusul serangan militer AS-Israel terhadap Iran. Sinyal yang saling bertolak belakang membuat investor kesulitan membaca peluang berakhirnya perang.

S&P 500 mencatat kenaikan pada pekan perdagangan yang lebih singkat karena libur, sekaligus memutus tren penurunan selama lima minggu beruntun. Meski begitu, indeks acuan tersebut sebelumnya menutup kuartal dengan performa terburuk sejak 2022, tertekan oleh perang dan lonjakan harga energi sejak akhir Februari.

"Akan sulit untuk mengalihkan perhatian pasar dari Timur Tengah, harga minyak, dan risiko yang muncul," kata Matthew Miskin, salah satu kepala strategi investasi di Manulife John Hancock Investments.

"Pasar telah begitu terfokus secara rabun pada risiko geopolitik dan ... bagaimana semua ini akan berakhir,” imbuhnya.

Sepanjang tahun ini, pasar saham cenderung tersendat. Selain konflik geopolitik, kekhawatiran terkait gangguan kecerdasan buatan dan melemahnya kredit swasta turut memperparah ketidakpastian. S&P 500 bahkan tercatat turun hampir 6 persen dari rekor tertingginya pada akhir Januari.

Perhatian investor kini tertuju pada dampak perang terhadap pasokan minyak dan harga energi global, terutama terkait kondisi Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak. Gangguan di wilayah tersebut sempat mendorong harga minyak mentah AS menembus lebih dari USD 110 per barel pada Kamis, setelah sebelumnya berada di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

"Pasar sedang memperhitungkan harga minyak," kata Doug Huber, wakil kepala investasi di Wealth Enhancement Group. "Ekspektasi inflasi, pasar obligasi -- semuanya terpaku pada konsep tentang apa yang dilakukan minyak."

Indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis pekan depan menjadi indikator awal untuk mengukur dampak lonjakan energi terhadap inflasi. Seiring kenaikan harga minyak mentah AS sekitar 90 persen sejak awal tahun, harga rata-rata bensin di AS kini telah melampaui USD 4 per galon, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.

"Kami pikir tahap pertama dari dampak kenaikan harga minyak akan tiba pada bulan Maret melalui bahan bakar kendaraan bermotor," kata BNP Paribas dalam catatannya.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters, CPI Maret diperkirakan naik 0,9 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan diproyeksikan meningkat 0,3 persen.

Miskin menilai dampak lanjutan dari perang dan kenaikan harga energi berpotensi merambat ke berbagai sektor barang dan jasa. Namun, ia menilai laporan Maret kemungkinan masih terlalu dini untuk menangkap efek inflasi yang lebih luas.

"Anda hanya mencoba mendapatkan sebanyak mungkin data real-time untuk merumuskan ke mana arah tren inflasi dan pertumbuhan ekonomi," kata Miskin.

Lonjakan risiko inflasi juga membuat pelaku pasar mulai mengesampingkan harapan pemangkasan suku bunga tahun ini, yang sebelumnya menjadi pendorong optimisme di pasar saham.

"Pasar sudah memikirkan inflasi. Jika CPI mengejutkan dengan angka yang jauh lebih tinggi, itu juga bisa menjadi sesuatu yang akan ditanggapi negatif oleh pasar,” kata Patrick Ryan, kepala strategi investasi di Madison Investments.

Selain CPI, data inflasi lain berupa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) juga akan dirilis. Namun, data tersebut masih mencerminkan kondisi Februari, sebelum konflik memanas. Investor juga akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV serta risalah rapat Federal Reserve bulan Maret untuk membaca arah kebijakan suku bunga.

Dari sisi korporasi, awal musim laporan keuangan mulai menjadi perhatian. Beberapa emiten besar seperti Delta Air Lines (DAL.N) dan Constellation Brands (STZ.N) dijadwalkan merilis kinerja pekan depan.

Laporan tersebut akan menjadi pembuka musim laporan keuangan kuartal pertama yang dimulai pertengahan April. Secara keseluruhan, laba perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 14,4 persen secara tahunan, menurut data LSEG IBES.

"Musim laporan keuangan kuartal pertama yang dimulai pada pertengahan April seharusnya menunjukkan bahwa pertumbuhan laba yang mendasarinya masih menguat dan meluas," kata ahli strategi ekuitas Deutsche Bank dalam catatannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Purbaya Tegaskan Tak Ada Kenaikan BBM Subsidi hingga Akhir Tahun: Masih Punya Cadangan Rp440 Triliun
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Video Narasi Rismon Sianipar Disebut Olahan AI, Kuasa Hukum JK: Tetap Perlu Diuji
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Mendekati Hari H Pemilihan Dekan FIKK UNM, Begini Dukungan ke Kubu Andi Atssam
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Muenchen Kokoh di Puncak Klasemen Menuju Akhir Musim Bundesliga
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wapres Gibran Lepas 150 Alumni LPDP, Dorong Digitalisasi Pendidikan di Wilayah 3T
• 7 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.