Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran melalui unggahan media sosial dengan bahasa yang kasar.
Trump juga menyatakan akan menghancurkan pembangkit listrik serta jembatan di Iran apabila Teheran tidak memenuhi tenggat untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi seluruh aktivitas pelayaran pada Selasa (7/4/2026).
Dilansir dari BBC, Senin (6/4/2026), Trump kembali mengulang ancaman untuk menciptakan "neraka", namun dalam pernyataannya kepada media AS ia menilai masih terdapat "peluang besar" tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Pemerintah Iran menanggapi ultimatum tersebut dengan nada mengejek, menyebutnya sebagai langkah "tak berdaya, gugup, dan bodoh".
Ancaman terbaru ini disampaikan setelah Trump mengumumkan keberhasilan operasi penyelamatan awak kedua jet tempur AS yang sebelumnya ditembak jatuh di wilayah Iran, dalam misi yang berlangsung jauh di dalam wilayah musuh.
Menyusul insiden jatuhnya pesawat F-15 pada Jumat, pilot dan awak kedua sempat melontarkan diri dan pilot berhasil dievakuasi tidak lama setelah kejadian.
Baca Juga
- Trump Ultimatum Iran: Hadapi Neraka Jika Tak Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam
- Kepala Staf Angkatan Darat AS Dipecat saat Kecamuk Perang Dengan Iran
- Macron Minta Trump Serius Tangani Perang Iran: Jangan Banyak Omong
Baik AS maupun Iran sempat mengerahkan operasi pencarian intensif terhadap satu personel militer AS yang hilang di kawasan pegunungan Iran barat daya.
Insiden tersebut terjadi di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan, ketika Iran terus membalas serangan udara AS dan Israel dengan meluncurkan serangan ke negara-negara Teluk Arab sekutu kedua negara tersebut.
Iran juga menghentikan aktivitas transportasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial bagi pengiriman minyak mentah. Penutupan ini memicu lonjakan tajam harga minyak dunia serta meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Penutupan jalur strategis itu mendorong Trump pada Maret untuk menetapkan sejumlah tenggat bagi Iran, dan pada Minggu ia kembali menegaskan tuntutan tersebut melalui platform Truth Social.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya sekaligus, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka Selat itu sekarang juga, kalian ******** gila, atau kalian akan hidup dalam Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP,” ungkapnya di Truth Social.
Dalam rangkaian wawancara lanjutan dengan media AS, Trump mengatakan kepada Fox News bahwa terdapat "peluang besar" kesepakatan dapat dicapai pada Senin.
Namun, ia juga menyebut tengah mempertimbangkan opsi ekstrem untuk "menghancurkan semuanya dan mengambil alih minyak" apabila kesepakatan damai tidak segera tercapai.
Selanjutnya, Trump kembali mengunggah pesan: "Selasa, pukul 20.00 waktu Timur!" yang mengindikasikan perpanjangan tenggat dari batas awal yang dijadwalkan berakhir pada Senin, 6 April.
Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer pusat Iran merespons dengan keras, menyebut pernyataan Trump sebagai tindakan "tak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh", seraya memperingatkan bahwa "gerbang neraka akan terbuka" bagi pemimpin AS tersebut.
Di sisi lain, Israel terus menggencarkan serangan terhadap infrastruktur sipil Iran, termasuk fasilitas petrokimia pada Sabtu, dan dilaporkan tengah menunggu lampu hijau dari AS untuk memperluas serangan ke fasilitas energi pada pekan mendatang.
Serangan gabungan AS-Israel juga dilaporkan menghantam Bandara Internasional Qasem Soleimani di Iran barat daya pada Minggu.
Iran secara konsisten melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS.
Di Israel, sebuah bangunan residensial di Haifa dilaporkan terkena hantaman langsung rudal balistik pada Minggu, mengakibatkan empat orang mengalami luka-luka.
Sementara itu, otoritas Abu Dhabi mengonfirmasi tengah menangani kebakaran di fasilitas petrokimia Borouge yang dipicu oleh puing rudal Iran.
Kuwait melaporkan bahwa serangan drone Iran telah menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas minyak dan petrokimia, sementara instalasi industri dan bahan bakar di Bahrain turut menjadi target serangan.





