Peristirahatan Terakhir 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi menjaga perdamaian di Lebanon telah dimakamkan pada Minggu (5/4). Ketiganya dimakamkan dengan upacara militer di tiga taman makam pahlawan (TMP) yang berbeda.

Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung. Sementara, Serka (Anm) M. Nur Ichwan di TMP Giri Dharmoloyo, Magelang. Lalu, Kopda (Anm) Farizal Rhomadon di TMP Giripeni, Kulon Progo.

Berikut kumparan rangkum prosesi pengantaran mereka menuju peristirahatan terakhirnya.

Panglima TNI Pimpin Pemakaman Mayor Zulmi di TMP Cikutra Bandung

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjadi inspektur upacara pemakaman Mayor (Anm) Zulmi Aditya Iskandar di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung.

Pantauan kumparan, jenazah tiba di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB. Terlihat peti jenazah Mayor Zulmi dibalut menggunakan bendera merah putih. Peti dibopong oleh sejumlah prajurit TNI.

Di lokasi, juga nampak sejumlah pejabat TNI yang ikut datang ke makam.

"Yang telah gugur demi kepentingan serta keluhuran bangsa dan negara pada hari Senin tanggal 30 Maret 2026 pukul 10.45 waktu Lebanon atau 15.45 WIB," tutur Agus mengantar pemakaman jenazah.

"Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya menjadi suri teladan bagi kita semua dan arwahnya mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Besar," tambahnya.

Panglima TNI Kenang Mayor Zulmi yang Gugur di Lebanon: Prajurit Terbaik TNI

Jenderal Agus Subiyanto menyebut almarhum Mayor Infanteri (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar sebagai salah satu prajurit terbaik yang dimiliki Indonesia.

Hal itu disampaikannya usai memimpin upacara militer pemakaman di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung.

Dalam keterangannya, Agus menegaskan bahwa almarhum merupakan prajurit Kopassus yang memiliki rekam jejak penugasan gemilang selama berdinas.

“Gugurnya prajurit terbaik yang dimiliki oleh Indonesia, Mayor Anumerta Zulmi, salah satu prajurit terbaik yang dimiliki TNI yang bertugas di Kopassus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap penugasan yang dijalankan almarhum selalu membuahkan hasil baik, hingga mendapatkan berbagai penghargaan dari satuan. Atas prestasi tersebut, almarhum kemudian dipercaya untuk menjalankan misi perdamaian di Lebanon.

“Setiap menjalankan tugas, almarhum mendapatkan reward dari satuan. Untuk reward tersebut beliau diberangkatkan ke luar negeri dalam operasi misi perdamaian di Lebanon,” katanya.

Panglima TNI juga menyampaikan duka mendalam atas gugurnya almarhum dalam menjalankan tugas negara.

“Sekali lagi kami dari TNI berduka sangat dalam atas insiden yang terjadi,” ucapnya.

Selain itu, Agus memastikan negara akan memenuhi seluruh hak yang seharusnya diterima oleh prajurit yang gugur dalam tugas. Berbagai santunan telah disiapkan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Di antaranya, santunan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), santunan risiko kematian khusus, serta klaim asuransi. Tak hanya itu, keluarga almarhum juga akan menerima santunan kematian serta dukungan pendidikan bagi anak-anaknya.

Ia menambahkan, bantuan juga akan datang dari pemerintah pusat. Presiden Republik Indonesia, lanjutnya, telah menyampaikan langsung komitmen untuk memberikan perhatian kepada keluarga almarhum.

“Dan ada juga yang akan diberikan oleh Bapak Presiden, sudah disampaikan ke saya langsung,” pungkasnya.

Tangis Istri Pecah di Pemakaman Serka Ichwan, Keluarga Kenang Sosok Berdedikasi

Prosesi pemakaman Serka (Anumerta) M. Nur Ichwan berlangsung khidmat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharmoloyo, Magelang, Jawa Tengah.

Almarhum dimakamkan secara Islam dengan upacara militer yang dipimpin Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita.

Suasana haru tak terbendung saat istri almarhum, Hanadita Anjani (26), menangis di depan pusara sang suami.

Setelah prosesi pemakaman, ia melantunkan doa sambil mengusap foto almarhum.

Hanadita didampingi orang tua, mertua, putri sematawayangnya yang masih berusia 8 bulan, serta adik laki-laki Serka Ichwan. Keluarga tersebut tampak saling menguatkan.

Serka Ichwan meninggalkan seorang istri dan satu anak yang masih bayi. Ia merupakan prajurit TNI dari Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL yang gugur dalam tugas di Lebanon.

Almarhum juga dikenal sebagai bintara perawat yang bertugas di Kodam IX/Udayana.

Kakak sepupu almarhum, Sumarno, mengatakan menjadi tentara adalah cita-cita yang diperjuangkan sejak kecil.

"Almarhum ini anak yatim ditinggalkan sejak kecil. Sangat gigih dalam mengejar cita-citanya menjadi tentara," ujar Sumarno.

Setelah lulus SMP, almarhum melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan Kodam IV/Diponegoro.

"Ayahnya memang meminta dia menjadi anggota TNI. Dia juga berkeinginan menjadi anggota TNI khususnya di bagian kesehatan," jelas dia.

Sumarno mengenang almarhum sebagai sosok yang baik dan berdedikasi tinggi. Ia juga memiliki semangat besar saat mendapat tugas ke Lebanon.

"Anak ini memang selalu berjuang di mana pun. Dia ditugaskan di Lebanon dengan sangat semangat sekali," kata Sumarno.

Isak Tangis Istri Iringi Pemakaman Kopda Farizal di Kulon Progo

Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giripeni Kulon Progo. Istri Fahrizal, Fafa Nur Azila, menghadiri langsung pemakaman tersebut. Terlihat ia tak sanggup menahan rasa sedih.

Tangis Fafa pecah. Air mata membasahi pipinya. Dalam duka yang begitu dalam, ia terus mengusap tanah makam suami tercintanya.

Fahrizal dimakamkan secara militer di TMP Giripeni. Asisten Perencanaan Umum (Asrenum) Panglima TNI Letjen TNI Candra Wijaya memimpin upacara pemakaman tersebut.

"Atas nama negara dan Tentara Nasional Indonesia dengan ini mempersembahkan kepada persada Ibu Pertiwi jiwa, raga, dan jasa-jasa almarhum nama Farizal Rhomadhon pangkat Kopral Dua anumerta," Candra dalam amanatnya.

Sementara itu, Pangdam Iskandar Muda (IM), Mayor Jenderal TNI Joko Hadi Susilo seusai upacara pemakaman mengatakan pemakaman berjalan dengan lancar dan aman.

"Beliau almarhum gugur di Lebanon. Beliau tergabung dalam Pasukan Kontingen Garuda," kata Joko.

3 TNI Gugur di Lebanon, SBY Minta PBB Hentikan Misi UNIFIL atau Pindah Lokasi

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), merespons gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Lebanon. SBY mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil langkah tegas terkait keberadaan satgas UNIFIL di tengah zona perang.

SBY mengaku merasakan duka mendalam setelah memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah para prajurit di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (4/4).

"Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka," ujar SBY melalui unggahannya di media sosial X.

Purnawirawan jenderal bintang empat ini menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menuntut investigasi jujur dan adil dari PBB. SBY menekankan bahwa UNIFIL harus bertanggung jawab menjelaskan penyebab insiden beruntun yang menyasar pasukan Indonesia.

Menurut SBY, secara teknis tugas Kontingen Garuda di Lebanon saat ini sudah keluar dari mandat penjaga perdamaian berdasarkan Chapter 6 Piagam PBB.

"Mereka bertugas di 'blue line' atau di wilayah 'blue zone', yang bukan merupakan daerah pertempuran atau 'war zone'. Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di 'Blue Line' yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Lebanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar 'Blue Line' kini sudah berada di 'war zone', yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah," tegas SBY.

Mengingat situasi yang semakin berbahaya di mana pasukan Israel dilaporkan sudah merangsek maju hingga 7 kilometer dari garis biru, SBY mendesak PBB segera meninjau ulang misi tersebut.

"Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York, segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini," katanya.

SBY juga mengingatkan Dewan Keamanan PBB agar tidak menggunakan standar ganda dalam menangani keselamatan personelnya.

“Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda,” ujarnya.

Cerita SBY Usul ke PBB Buat Kirim Pasukan TNI ke Lebanon pada 2006

SBY mengungkapkan sejarah keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon. Ia menyebut, pengiriman pasukan TNI ke wilayah konflik tersebut bermula dari inisiatifnya saat masih menjabat kepala negara.

Hal tersebut disampaikan SBY sebagai bagian dari pernyataannya dalam merespons gugurnya 3 prajurit TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Lebanon.

SBY mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil langkah tegas terkait keberadaan satgas UNIFIL di tengah zona perang.

"Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Lebanon ini. Mengapa? Ketika menjadi Presiden Indonesia dulu,saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Lebanon," kata SBY dalam unggahan akun X @SBYudhoyono.

SBY menjelaskan, usulan soal pengiriman TNI pada saat dia menjabat Presiden tersebut tidak lepas dari situasi konflik yang terjadi pada Agustus 2006 antara Israel dan Lebanon.

Saat itu, korban berjatuhan, terutama di pihak Lebanon, sementara Dewan Keamanan PBB dinilai belum mengambil langkah efektif untuk menghentikan perang.

"Pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Lebanon. Korban berjatuhan utamanya di pihak Lebanon. DK PBB belum melakukan langkah-langkah yang efektif untuk menghentikan peperangan tersebut. Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerja sama Islam) untuk menggelar "emergency meeting" guna mendesak PBB untuk segera bertindak," ujarnya.

Menurut SBY, usulan tersebut ditindaklanjuti oleh Perdana Menteri Malaysia saat itu dengan menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Kuala Lumpur.

"Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Lebanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain," tuturnya.

Dalam forum tersebut, SBY menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengirim pasukan sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian PBB pasca-gencatan senjata.

"Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari "peacekeeping mission" di perbatasan Israel dan Lebanon. Artinya, setelah terjadi "ceasefire" atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut," jelasnya.

SBY juga mengungkap upaya cepat yang dilakukan pemerintah saat itu untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista), termasuk pembelian kendaraan tempur dari Prancis.

"Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Prancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Prancis untuk segera bisa dikirim ke Lebanon. Alhamdulillah, Prancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta," ungkapnya.

Ia menambahkan, kontingen pertama Indonesia, Garuda XXIII/A, berhasil diberangkatkan hanya dalam waktu tiga bulan setelah keputusan tersebut.

"Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Lebanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan," lanjutnya.

Hingga kini, kata SBY, Indonesia telah mengirimkan puluhan kontingen ke Lebanon dalam misi perdamaian PBB.

"Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Lebanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia," ucap dia.

SBY pun memberikan pesan kepada prajurit TNI yang masih bertugas di Lebanon agar tetap semangat menjalankan misi.

"Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Minta Inspektorat Periksa Lurah Buntut Laporan Warga Dibalas Foto AI
• 11 jam laludetik.com
thumb
ETLE Handheld Generasi Baru, Bisa Cetak Bukti Pelanggaran di Tempat
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Video: Realisasi Investasi Semikonduktor, HKI Minta Izin Dipermudah
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemerintah Siapkan Hunian Vertikal di Lahan KAI Tanah Abang
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Kode Redeem FF Hari Ini 6 April 2026: Klaim Skin SG2 Golden Glare, M1887, Bundle Eksekutif, dan Diamond Gratis!
• 13 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.