Sistem yang mulai diterapkan sejak awal 2026 ini justru dinilai bermasalah, bahkan berpotensi membuat sejumlah game tidak bisa diakses di Indonesia.
Awalnya, IGRS dirancang sebagai sistem klasifikasi usia untuk melindungi pemain dari konten sensitif seperti kekerasan atau unsur dewasa. Valve sebagai pemilik Steam kemudian mengintegrasikan sistem ini khusus untuk pengguna di Indonesia, di mana pengembang wajib mengisi Steam Content Survey sebelum game dirilis.
Dalam praktiknya, banyak kejanggalan muncul pada hasil klasifikasi. Sejumlah game populer justru mendapatkan rating yang tidak sesuai dengan kontennya.
Beberapa temuan yang ramai diperbincangkan antara lain:
-Game dewasa seperti Nukitashi diberi rating 3+
-A Space for the Unbound, game buatan lokal, justru mendapat rating 18+
-PUBG: Battlegrounds masuk kategori 3+ tanpa indikasi kekerasan
-Dota 2 diberi label 18+ karena unsur tertentu seperti interaksi daring
-Balatro yang merupakan game kartu justru mendapat rating 3+ tanpa penjelasan jelas
Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan soal akurasi sistem yang digunakan, karena hasilnya dinilai tidak mencerminkan isi game secara nyata.
Risiko Game Tidak Bisa Beredar Kekhawatiran terbesar muncul dari adanya kategori RC (Refused Classification). Label ini berarti sebuah game dianggap tidak layak didistribusikan di Indonesia.
Beberapa judul besar dilaporkan sudah masuk kategori ini, termasuk Grand Theft Auto V. Meski saat ini masih tersedia di Steam, status tersebut berpotensi membuat game tersebut diblokir di masa mendatang.
Selain itu, game lain seperti Girls’ Frontline juga disebut mengalami hal serupa. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin semakin banyak game yang hilang dari pasar Indonesia.
Kondisi ini turut menuai kritik dari pelaku industri. CEO Toge Productions, Kris Antoni, salah satunya menyampaikan kritik lewat unggahan di media sosial miliknya.
Kris menyoroti adanya ketidaksesuaian dalam sistem penilaian, di mana game dengan konten berat justru dianggap aman, sementara game dengan nilai naratif tinggi malah dibatasi.
Banyak pihak juga menilai bahwa sistem IGRS belum sepenuhnya selaras dengan standar global seperti ESRB atau PEGI, yang selama ini menjadi acuan industri game internasional.
Diduga Akibat Sistem Otomatis Sejumlah analis menduga masalah ini berasal dari proses klasifikasi yang terlalu bergantung pada sistem otomatis melalui Steam Content Survey. Minimnya verifikasi manual disebut membuat hasil rating tidak akurat dan berpotensi menyesatkan pengguna.
Hal ini memperbesar risiko kesalahan klasifikasi yang berdampak langsung pada distribusi game di Indonesia.
Melihat berbagai polemik yang muncul, komunitas gamer dan pelaku industri mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Digital, untuk segera melakukan evaluasi terhadap implementasi IGRS.
Jika tidak segera diperbaiki, sistem ini dikhawatirkan tidak hanya membingungkan pemain, tetapi juga merugikan developer, termasuk studio lokal yang bergantung pada distribusi digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)





