Saham Terkonsentrasi Tinggi (HSC) BREN, DSSA, hingga RLCO Serentak Anjlok

idxchannel.com
12 jam lalu
Cover Berita

Saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) kompak jatuh pada awal perdagangan Senin (6/4/2026).

Saham Terkonsentrasi Tinggi (HSC) BREN, DSSA, hingga RLCO Serentak Anjlok. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) kompak jatuh pada awal perdagangan Senin (6/4/2026).

Sejumlah emiten bahkan mendekati batas auto rejection bawah (ARB) 15 persen seiring tekanan jual yang meningkat di pasar.

Baca Juga:
ELSA Siap Bertransformasi Jadi Low-Cost Operator, Target Efisiensi Operasi hingga 25 Persen

Berdasarkan data perdagangan per pukul 09.29 WIB, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) turun 13,51 persen ke Rp1.920 per unit.

Sementara PT Ifishdeco Tbk (IFSH) merosot 14,76 persen ke Rp1.530 per unit dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) melemah 14,58 persen ke Rp820. Penurunan yang mendekati 15 persen tersebut membuat saham-saham ini nyaris menyentuh batas ARB.

Baca Juga:
Bursa Asia Menguat, Pasar Abaikan Ancaman Trump

Tekanan juga terjadi pada PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) yang turun 6,91 persen ke Rp3.100 dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 7,71 persen ke Rp4.430.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut terkoreksi 11,01 persen ke Rp62.700, sedangkan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) turun 11,79 persen ke Rp5.425.

Baca Juga:
Harga Emas Antam (ANTM) Anjlok Rp26 Ribu, Ini Rinciannya

Di sisi lain, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) menjadi satu-satunya saham yang menguat dengan kenaikan 9,76 persen ke Rp1.125, usai sempat jatuh ke Rp935.

Sementara itu, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) berpotensi turun hingga ARB 10 persen karena berada di papan Full Call Auction (FCA) dan baru dapat melakukan pencocokan bid-offer pada pukul 10.00 WIB.

Koreksi serentak saham-saham HSC ini terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis pengumuman saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi per 2 April 2026 berdasarkan struktur kepemilikan saham scrip dan scripless per 31 Maret 2026. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan transparansi pasar modal Indonesia.

Langkah ini juga menjadi bagian dari proposal yang diajukan BEI kepada global index providers, termasuk MSCI, untuk meningkatkan kualitas dan investabilitas pasar.

BEI menegaskan bahwa pengumuman HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran di pasar modal.

Sorotan utama pelaku pasar sebelumnya tertuju pada BREN yang mencatat konsentrasi kepemilikan 97,31 persen sebagai bagian dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu serta DSSA sebesar 95,76 persen yang terafiliasi dengan Grup Sinarmas.

Keduanya merupakan konstituen MSCI Indonesia Global Standard sehingga langsung dikaitkan dengan isu free float, investabilitas, hingga kemampuan indeks direplikasi oleh investor global. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RUU Perampasan Aset Diminta Pastikan Sita Harta yang Terbukti Hasil Pidana
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Mentan Ungkap Lima Strategi Utama Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini, Senin 6 April 2026
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Fakta dan Momen Menarik Laga Semen Padang vs Persib di BRI Super League: Teja Paku Alam Pecahkan Rekor di Tanah Kelahiran
• 12 jam lalubola.com
thumb
Basarnas Temukan Jasad Bocah Tenggelam di Pantai Meulaboh
• 18 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.