Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi, seiring pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
IHSG hari ini pada pembukaan turun 25,22 poin atau 0,36% ke level 7.001,56. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga terkoreksi 0,43% ke posisi 711,53.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level support di kisaran 6.900–7.000 dalam jangka pendek.
Baca juga : IHSG Hari Ini 16 Maret 2026: Melemah Imbas Konflik Iran-AS
Dari eksternal, dinamika konflik di Timur Tengah diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama pasar sepanjang pekan ini. Pelaku pasar akan menilai apakah situasi menuju de-eskalasi atau justru berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz. Donald Trump disebut memberikan tenggat waktu kepada Iran hingga 6 April 2026 untuk membuka kembali jalur tersebut, dengan ancaman eskalasi militer jika tidak dipenuhi.
Di sisi lain, pelaku pasar global juga menunggu sejumlah rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk risalah FOMC The Fed, data inflasi, ISM Services PMI, Michigan Consumer Sentiment, serta inflasi berbasis Personal Consumption Expenditure (PCE).
Baca juga : BEI: Pelemahan IHSG Hari Ini Murni Dipicu Konflik Iran vs AS
Dari domestik, implementasi aturan baru terkait keterbukaan data High Shareholding Concentration (HSC) dinilai berpotensi memicu volatilitas jangka pendek. Risiko overhang, terutama pada saham dengan likuiditas rendah, menjadi perhatian, meskipun kebijakan ini dinilai positif dalam jangka panjang karena meningkatkan transparansi pasar.
Investor juga akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi dalam negeri, seperti cadangan devisa pada 8 April, serta indeks keyakinan konsumen dan penjualan otomotif pada 10 April.
Ratna menambahkan, jika konflik geopolitik berlarut-larut, harga minyak mentah berpotensi bertahan di level tinggi. Kondisi ini dapat memperlebar defisit APBN apabila pemerintah meningkatkan subsidi energi tanpa penyesuaian anggaran lainnya.
“Situasi tersebut berisiko memicu capital outflow serta tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah,” ujarnya. (Ant/E-3)




