Rupiah Melemah Seiring Upaya Pemerintah Jaga Defisit APBN di Tengah Gejolak Harga Minyak

viva.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.015 pada Kamis, 2 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 13 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.002 pada perdagangan Rabu, 1 April 2026.

Baca Juga :
MG Semakin Lengkap, Ini Daftar Harga Mobilnya per April 2026
5 Mobil Mazda Termahal di Indonesia, dari CX-80 sampai MX-5

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 6 April 2026 hingga pukul 09.04 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.997 per dolar AS. Posisi itu melemah 17 poin atau 0,10 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.980 per dolar AS.

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal
Photo :
  • istockphoto.com

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah memperkirakan defisit APBN melebar dari target, seiring dengan pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang Timur Tengah.

"Setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel akan menambah Rp 6 triliun terhadap defisit, yang sebelumnya ditargetkan Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 6 April 2026.

Kendati yakin tetap berada di bawah batas 3 persen, defisit APBN bisa melebar ke 2,9 persen terhadap PDB. Khususnya apabila harga minyak berada di level US$100 secara konsisten sepanjang tahun.

Namun, pemerintah masih memiliki ruang fiskal. Salah satu alasannya karena harga minyak dunia pun masih berfluktuasi. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen terhadap PDB, salah satunya dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) di level US$70 per barel.

Pelebaran defisit ini tidak lepas dari bengkaknya belanja subsidi. Apalagi, APBN akan tetap menjadi peredam kejut (shock absorber) kenaikan harga minyak, usai pemerintah tak menaikkan harga BBM. Sehingga anggaran subsidi energi berpotensi bengkak hingga sebesar Rp100 triliun untuk meredam kenaikan harga minyak.

Karenanya, pemerintah akan terus melakukan penghematan guna mengantisipasi harga minyak terus bertengger di US$100 per barel sepanjang tahun. Beberapa cara yang dilakukan yakni penghematan belanja kementerian/lembaga hingga tiga tahap, sampai dengan pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) guna menambal defisit. 

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.000-Rp 17.040," ujarnya.

Baca Juga :
Jokowi Puji Langkah Prabowo Tak Naikkan Harga BBM: Keputusan Berani Meski Berisiko
Harga Emas Fluktuatif, Bank Mega Syariah Dorong Nasabah 'Buy The Dip' via Flexi Gold
Harga Emas Antam Hari Ini Tak Bergerak! Bertahan di Rp2,85 Juta per Gram

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Didesak Segera Selidiki Kasus Dugaan Korupsi Impor 105.000 Mobil Pikap
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Bahlil: Harga Avtur di RI Lebih Kompetitif dari Negara Lain
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Rusia Panik Situs Nuklir Iran Dirudal, Telpon Langsung Militer Israel
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hari Nelayan Nasional 2026, Waka MPR Tekankan Ekonomi Biru & Ketahanan Pangan
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Polres Jaksel Limpahkan Pria Cabuli Keponakan ke Kejari
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.