Scroll, Relate, Diagnosis: Ketika TikTok Jadi "Dokter" Kita

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah kamu scrolling FYP lalu tiba-tiba merasa, "ini aku banget" saat nonton video tentang ADHD atau anxiety? Kamu bukan satu-satunya. Di seluruh dunia, jutaan orang muda, termasuk di Indonesia, kini mengandalkan konten TikTok untuk memahami kondisi kesehatan mental mereka, bahkan sampai menyimpulkan sendiri bahwa mereka mengidap gangguan tertentu. Fenomena ini dikenal sebagai self-diagnosis, dan ia telah menjadi tren yang tak bisa diabaikan begitu saja.

FYP sebagai Sumber "Pengetahuan" Baru

TikTok bukan sekadar platform hiburan. Dengan algoritma For You Page yang sangat personal, platform ini mampu menyajikan konten yang terasa relevan dan menyentuh pengalaman pribadi penggunanya. Hashtag #ADHD saja telah ditonton lebih dari 2,4 miliar kali, sementara #MentalHealth menembus 15 juta unggahan. Tak heran jika banyak pengguna, terutama remaja dan mahasiswa, merasa "menemukan jawaban" atas kegelisahan mereka lewat video berdurasi 60 detik.

Namun, benarkah konten-konten itu bisa disebut pengetahuan? Dalam logika penyelidikan ilmiah, pengetahuan yang valid harus bersumber dari proses yang sistematis, dapat diuji, dan didukung bukti yang sahih. Pengetahuan ilmiah berbeda secara mendasar dari apa yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai local knowledge, mitos, atau keyakinan populer. Sekalipun ketiganya bisa terasa sangat meyakinkan bagi yang mempercayainya.

Antara Fakta dan Konten yang Terasa Fakta

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE (2025) mengevaluasi 100 video TikTok bertagar #ADHD yang paling banyak ditonton. Hasilnya mengejutkan: kurang dari 50% klaim dalam video-video tersebut sesuai dengan kriteria diagnostik resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Lebih parahnya lagi, sebagian besar konten yang diklaim sebagai gejala ADHD ternyata mencerminkan pengalaman manusia yang umum, bukan indikator gangguan.

Masalahnya bukan pada niat buruk para kreator konten. Banyak dari mereka berbagi pengalaman pribadi dengan tulus. Masalahnya terletak pada cara kita sebagai penonton mengolah informasi itu. Dalam kerangka epistemologi ilmiah, ada perbedaan besar antara anekdot personal dan data empiris. Ketika seseorang berkata "aku pelupa dan impulsif, itu pasti ADHD," ia sedang melakukan penalaran induktif yang terlalu cepat melompat ke kesimpulan, tanpa melalui observasi sistematis, tanpa kontrol, dan tanpa verifikasi oleh ahli.

Kenapa Kita Mudah Percaya?

Ada alasan psikologis dan sosial mengapa fenomena ini tumbuh subur. Pertama, algoritma TikTok bekerja seperti cermin karena ia memperkuat apa yang sudah kita percaya dengan terus menyajikan konten serupa. Kedua, akses ke layanan kesehatan mental di Indonesia masih terbatas, baik dari sisi biaya maupun ketersediaan. Ketika antrian ke psikolog panjang dan mahal, FYP terasa seperti jalan pintas yang mudah dan gratis.

Kondisi ini persis menggambarkan apa yang disebut sebagai pengetahuan non-ilmiah. Bukan berarti salah sepenuhnya, tetapi belum memenuhi syarat epistemologis sebagai ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang lahir dari resonansi emosional dan viralitas konten tidak otomatis menjadi kebenaran ilmiah, meski terasa sangat nyata bagi yang mengalaminya.

Lalu, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

Bukan berarti TikTok sama sekali tidak berguna. Platform ini bisa menjadi titik awal kesadaran, yaitu mengenalkan kita pada kemungkinan bahwa ada sesuatu yang perlu dieksplorasi lebih jauh. Namun ia tidak boleh menjadi titik akhir dari proses itu. Metode ilmiah mengajarkan bahwa hipotesis, termasuk dugaan tentang kondisi diri sendiri, perlu diuji, diverifikasi, dan dikonfirmasi oleh pihak yang kompeten.

Artinya, relate dengan konten TikTok tentang ADHD boleh saja jadi langkah pertama. Tapi langkah berikutnya adalah menemui psikolog atau psikiater yang terlatih melakukan asesmen secara ilmiah. Diagnosis yang benar bukan soal seberapa banyak kamu mengangguk saat menonton video, melainkan soal proses penyelidikan yang ketat, berbasis data, dan bebas dari bias konfirmasi.

Di era informasi ini, kemampuan membedakan pengetahuan ilmiah dari pengetahuan yang terasa ilmiah adalah keterampilan yang semakin kritis untuk dimiliki. Scroll boleh, relate boleh, tapi diagnosis, serahkan pada ilmu. Karena kesehatan mental kita terlalu berharga untuk diserahkan kepada algoritma.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dukung Kajari Karo Diamankan, DPR Minta Kejagung Periksa Dugaan Kriminalisasi Seperti Amsal Sitepu
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Wamen Isyana Dorong Perluasan Distribusi Makan Bergizi Gratis untuk Ibu Hamil dan Balita
• 10 jam lalumatamata.com
thumb
Kemenko Perekonomian Pantau Kenaikan Harga Plastik hingga 50 Persen di Pasaran
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Klasemen Final Four Proliga: LavAni Tempel Bhayangkara Usai Tekuk Samator, Peluang ke Grand Final Makin Besar
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Pilot Jet Tempur Berhasil Diselamatkan, Trump Klaim sebagai Operasi Ajaib
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.