Roma, VIVA – Pemasok utama bahan bakar penerbangan mengeluarkan pemberitahuan kepada sejumlah maskapai penerbangan pada akhir pekan bahwa distribusi avtur akan dijatah hingga 9 April 2026 di sejumlah bandara Italia, di tengah lonjakan trafik liburan Paskah dan ketegangan di wilayah Timur Tengah.
Air BP mengumumkan pembatasan pengisian bahan bakar di empat bandara, yakni Bologna, Milan Linate, Treviso, dan Venesia, menurut laporan kantor berita ANSA.
Disebutkan bahwa prioritas pengisian bahan bakar akan diberikan kepada penerbangan ambulans udara, penerbangan negara, serta penerbangan dengan durasi lebih dari tiga jam, sementara untuk penerbangan lainnya distribusi akan dijatah setidaknya hingga 9 April.
Presiden Otoritas Penerbangan Sipil Italia ENAC, Pierluigi Di Palma, mengatakan kesulitan pasokan bahan bakar “terkait dengan periode Paskah yang padat, bukan akibat penutupan Selat Hormuz.”
“Jika konflik berlanjut, akan ada konsekuensi,” ujarnya kepada ANSA.
Sementara, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengakui bahwa jika situasi di Timur Tengah memburuk, negaranya dapat menghadapi kekurangan energi.
Surat kabar Corriere della Sera melaporkan penerapan pembatasan awal bahan bakar jet di empat bandara Italia, yakni di Milan, Venesia, Treviso, dan Bologna.
“Ketika ketidakstabilan meningkat di negara-negara Teluk, hal itu berdampak pada biaya energi, dunia usaha, lapangan kerja, dan pada akhirnya daya beli keluarga,” kata Meloni dalam video yang diunggah di media sosialnya.
Negara-negara Teluk Persia memainkan peran penting dalam pasar energi global, dan jika produksi di kawasan tersebut berkurang atau terhenti, harga energi akan meningkat bagi semua pihak, demikian menurut Meloni.
“Dan jika situasi memburuk, kita bisa menghadapi kondisi di mana kita tidak memiliki seluruh energi yang kita butuhkan, bahkan di Italia,” ujarnya.
Meloni mengunjungi negara-negara Teluk Persia yang menurutnya, memasok sekitar 15 persen kebutuhan minyak Italia.
“Saya membahas dengan mereka bagaimana memperkuat kerja sama, membantu menghentikan eskalasi, dan segera memulihkan kebebasan navigasi di jalur yang menjadi sandaran energi, perdagangan, dan stabilitas, dimulai dari Selat Hormuz,” jelasnya.
Peningkatan ketegangan di kawasan Teluk Persia hampir menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting pasokan minyak dan gas alam cair global. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara.





