Jakarta, VIVA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi alias Kiki mengungkapkan, dinamika geopolitik yang terjadi di Timur Tengah bisa berdampak ke sektor jasa keuangan di Tanah Air melalui tiga kanal utama.
Hal itu disampaikannya dalam telekonferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK periode Maret 2026.
Dia menjelaskan, eskalasi konflik Iran dengan AS-Israel berpotensi meningkatkan risiko transmisi dampaknya bagi sektor keuangan di Tanah Air, melalui tiga kanal utama.
"Yaitu financial market channel, kenaikan harga energi, dan direct channel di dalam trade dan juga investment exposure," kata Kiki, Senin, 6 April 2026.
- Antara.
Karenanya, OJK pun mendorong para lembaga jasa keuangan di Tanah Air untuk melakukan asesmen lanjutan secara forward looking, sambil memperkuat sejumlah langkah antisipatif.
"Termasuk melalui penguatan manajemen risiko, mencermati secara intensif kinerja debitur, serta menjaga kecukupan likuditas dan juga permodalan," ujarnya.
Selain itu, Kiki juga memastikan bahwa OJK bakal terus memantau pergerakan pasar, serta berkoordinasi dengan self-regulatory organization (SRO) dalam mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan.
OJK menilai, sejumlah kebijakan untuk tetap menjaga stabilitas pasar saham juga masih tetap relevan. Antara lain yakni buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling, kebijakan trading hold, dan juga batasan auto rejection.
"Dimana pada 13 Maret 2026, OJK dan Bursa Efek Indonesia telah menetapkan pemberlakuan kembali kebijakan-kebijakan tersebut," ujarnya.





