Di tengah suasana khidmat misa Minggu Paskah, sosok Axel mencuri perhatian umat Gereja Santo Andreas, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (5/4/2026). Meski penyandang tuli, Axel lancar melantunkan kutipan dari kitab suci.
Bertugas sebagai lektor atau petugas pembaca teks kitab suci, suara Axel menembus sanubari umat. Sesekali pelafalannya memang sedikit terganggu.
Namun, hal itu tak mengurangi syahdu misa pagi itu. Keterlibatannya dalam misa pagi itu menjadi bukti, tugas melayani Tuhan bisa dilakukan semua.
”Dan, Ia menyuruh kami memberitakan kabar baik itu kepada orang-orang dan memberi kesaksian bahwa Ia-lah yang diangkat oleh Allah menjadi hakim orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang sudah mati...,” ucap Axel.
Tidak hanya melibatkan Axel, Gereja Santo Andreas Tidar Malang juga menyediakan juru bahasa isyarat (JBI) bagi jemaat tuli. Mereka berpakaian hitam dan berdiri di muka altar. Tangan-tangan mereka menerjemahkan setiap kata dan kalimat dengan bahasa isyarat.
Robert Pius Manik OCarm, romo di Paroki St Andreas Tidar, mengatakan, dua tahun terakhir, pihaknya rutin menggelar misa untuk disabilitas. Setiap Minggu jam 09.00 WIB, didukung sejumlah aktivis JBI, umat difabel diajak melayani menjadi petugas liturgi dalam perayaan ekaristi. Hal itu juga yang dilakukan saat Paskah tahun ini.
Misa Paskah di Gereja St Andreas Tidar, Malang, menyediakan juru bahasa isyarat bagi umat tuli.
Misa dihadiri umat dengan disabilitas.
Axel, lektor atau petugas pembaca kitab suci dalam misa Paskah, Minggu (5/4/2026).
Paskah, ujar Manik, adalah peristiwa istimewa. Maka, setiap pribadi adalah istimewa.
Oleh karena itu, sesuai dengan keinginan Uskup Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm, pihaknya ingin memberi kesempatan kepada orang-orang istimewa untuk ikut terlibat.
”Oleh karena itu, teman-teman difabel jangan ragu datang. Kami berharap paroki lain mengakomodasi teman-teman difabel, termasuk tuli, baik untuk melayani maupun dilayani sebagai umat Katolik,” kata Manik, Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Malang.
Isyarat untuk cinta.
Isyarat untuk kata contoh.
Hafiz, guru bahasa isyarat, sedang menjelaskan soal ketulian.
Manik, Wakil Rektor 2 Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang, mengatakan, sejumlah persiapan ada di balik misa ini. Petugas Gereja Santo Andreas, misalnya, harus belajar bahasa isyarat.
Seminggu dua kali, ada kelas bahasa isyarat untuk kepentingan ibadah, biasanya setiap Senin dan Rabu.
Kelas dibimbing guru bahasa isyarat dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Jatim. Keduanya mengajar umat yang bersedia membantu bertugas saat misa atau siapa saja yang mau belajar bahasa isyarat bersama-sama.
”Awalnya tidak banyak yang ikut, namun lama-lama banyak. Sehingga, isyarat yang dipelajari itu bisa digunakan untuk kepentingan ibadah, seperti misa hari ini,” kata Shanti (27), salah seorang pengajar.
Dengan mulai banyak orang belajar bahasa isyarat, ia berharap semakin banyak teman tuli bisa ikut ibadah. Selama ini, banyak di antara teman tuli hanya mengikuti ibadah dengan membaca atau sekadar menggunakan alat bantu dengar.
”Dengan adanya misa menggunakan bahasa isyarat seperti ini, saya senang karena teman tuli pun bisa ikut ibadah seperti lainnya,” katanya.
Adhien, Koordinator Pusbisindo Jatim, mengatakan, sejumlah kalangan mulai getol belajar bahasa isyarat. Selama ini, rata-rata teman tuli bekerja di kafe dan hotel serta menjadi guru. Namun, belum banyak yang mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
”Ada 600-an orang telah belajar bahasa isyarat di Pusbisindo Jatim. Namun, tidak semua bisa menggunakannya dalam keseharian. Sehingga, akses untuk teman-teman tuli memang masih terbatas. Termasuk saat mengakses dunia kerja,” tutur Adhien.
Ia berharap ke depan semakin banyak orang belajar isyarat dan mempraktikkannya di berbagai bidang. Dengan begitu, akses pada teman tuli pun akan semakin terbuka.
Hal senada diungkapkan Hafiz, guru bahasa isyarat dari komunitas Akar Tuli di Malang. Menurut dia, belajar isyarat adalah salah satu cara kita untuk mengenal dunia tuli dan membuka ruang dialog dengan teman tuli.
”Semakin banyak orang belajar bahasa isyarat, harapannya akses terhadap tuli pun akan semakin terbuka lebar. Nanti, jika semua bidang bisa menyediakan JBI, misalnya, teman tuli pun bisa mengakses bidang-bidang pekerjaan lain yang lebih luas,” tuturnya.
Akan tetapi, Hafiz mengingatkan, belajar bahasa isyarat tidak bisa sembarangan. Kode etiknya, belajar isyarat harus kepada si pemilik bahasa itu, yaitu teman tuli. Sebab, jika belajar kepada teman dengar, dikhawatirkan akan banyak tafsir dan isyarat yang salah.
Penggunaan bahasa isyarat dalam misa Paskah di Malang memberi pesan penting. Lewat dunia pendidikan hingga perayaan keagamaan, harapannya bakal semakin banyak orang belajar dan menggunakan bahasa isyarat. Jika itu terjadi, inklusivitas dalam berbangsa dan bernegara akan semakin nyata.





