KOLOM ANDI SURUJI : Efek Hormuz Cubit Dompet Emak-emak

celebesmedia.id
13 jam lalu
Cover Berita

PERANG Amerika-Israel (AmIs) versus Iran masih terus membara. Saling klaim dan ancam mengancam kedua kubu tak berhenti.

Sudah berlangsung satu bulan lebih. Tetapi akhir dari perang dramatis yang mencabik perikeadilan dan perikemanusiaan itu pun belum jelas.

Selat Hormuz masih ditutup oleh Iran. Sudah ada kapal pengangkut minyak bumi dan gas alam cair yang bisa lewat. Buah kebaikan hati pemerintah Iran. Tetapi masih sangat terbatas.

Masih banyak sekali kapal yang antre mau lewat. Tetapi tidak berani karena belum mendapat kode dari pihak Iran.

Inilah masalahnya. Sekaligus membangun kesadaran kolektif global baru. Bahwa Iran, meski diembargo lebih empat dekade oleh Amerika dan sekutunya, tetapi ia adalah kekuatan (power) besar. Pemegang kunci geopolitik dan geoekonomi global.

Kebijakannya membuat dunia bergejolak. Tak ubahnya gunung api yang memendam kekuatan amat dahsyat. Letusannya menciptakan tsunami ekonomi mematikan.

Ya, Selat Hormuz kunci itu. Sekitar 20 persen angkutan minyak bumi kebutuhan dunia harus lewat Hormuz. Sekitar 30 persen gas alam cair (LNG - Liquified Natural Gas). Bahkan sampai 40 persen kebutuhan pupuk urea/nitrogen dunia.

Banyak di antara kita masih membahas sudut makro dampak perang. Minyak mentah dan gas bumi yang bersumber dari Timur Tengah. Hebohlah masyarakat soal kenaikan harga bahan balar minyak (BBM). Padahal produk lainnya juga terancam kritis dan krisis.

Memang sekitar 65-75 persen minyak mentah diolah menjadi bahan bakar. Sisanya diolah menjadi bahan kimia dan berbagai produk plastik. Ia menghasilkan lebih dari enam ribu produk turunan dari yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Produk ini dihasilkan melalui penyulingan dan proses petrokimia, mencakup plastik, bahan bakar, pakaian, kosmetik, hingga peralatan rumah tangga. 

Belum lagi produk turunan LNG yang meliputi komponen hidrokarbon yang dipisahkan selama pemurnian gas alam, seperti propana, etana, dan butana, yang kemudian diolah kembali. Produk-produk ini dimanfaatkan untuk bahan bakar rumah tangga (LPG), bahan baku industri petrokimia, metanol, hingga pupuk. 

Contoh produk turunan minyak bumi:

* Bahan Bakar: Bensin (gasoline), solar (diesel), minyak tanah (kerosin), avtur (bahan bakar pesawat), dan LPG.

* Petrokimia (Plastik & Sintetis): Polietilena (botol, kantong plastik), Polipropilena (kemasan makanan, suku cadang), Polivinil Klorida (PVC/pipa), dan Polistirena.

* Serat Sintetis: Poliester, nilon, dan akrilik yang digunakan untuk pakaian dan karpet.

* Produk Industri & Konsumen: Aspal, pelumas (oli), lilin parafin, deterjen, pewarna, kosmetik (lipstik), dan petroleum jelly. 

Sampai di sini jelas, kan? Betapa Selat Hormuz salah satu sumbu ekonomi global, dan kunci kehidupan umat manusia di atas planet bumi ini.

Diam-diam tanpa disadari banyak orang, efek Hormuz telah merasuk ke kehidupan sehari-hari kita di Indonesia belakangan ini. Mungkin luput dari pengamatan kita.

Anda yang tinggal di Makassar, ada berita mengejutkan yang dirilis surat kabar Tribun Timur, edisi Senin (6/4/2026). Dari reportase wartawannya, diberitakan bahwa harga berbagai produk berbahan plastik di Makassar melonjak.

Kenaikan harga produk itu bahkan ada yang mencapai hingga 50 persen. Mulai dirasakan memukul para pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik. Tentu juga sudah terasa mencubit dompet emak-emak.

Pantauan Tribun di salah satu toko bahan plastik, hampir seluruh produk plastik melonjak harganya sejak akhir Maret.

Kantong plastik tahan panas ukuran 400 gram misalnya, kini dijual Rp24 ribu, naik dari harga awal Rp14.500. Ukuran kecil yang umum dipakai pedagang bakso, naik dari Rp10.500 menjadi Rp12.500.

Kotak mika untuk kemasan makanan seperti kini dibanderol Rp21 ribu untuk 100 helai dari Rp17 ribu. Harga yang ukuran lebih besar ikut terkerek dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu.

Gelas cup kemasan minuman juga naik drastis. Dari Rp8.000 kini menjadi Rp14.500 untuk 50 buah. Thinwall, wadah plastik makanan naik dari Rp28 ribu men jadi Rp33.500 isi 25 picis ukuran 200 ml. "Bahkan karung pun naik harga nya," ujar seorang pegawai toko.

Kenaikan harga produk ini mulai dirasakan pelaku usaha kecil. Fadel, pengusaha minuman kopi asal Kabupaten Gowa, mengaku kenaikan harga plastik menambah beban biaya produksinya, sementara menaikkan harga bukan pilihan tepat karena kondisi konsumen juga tertekan kenaikan harga lainnya.

Tentu ada jutaan "fadel-fadel" lain yang sama kebingungannya. Jutaan orang, terutama emak-emak pun mulai pusing menggerutu soal kenaikan harga bahan kebutuhan, yang tidak masuk akalnya berkaitan dengan perang Amis-Iran tetsebut.

Demikianlah dampak perang itu. Bahkan sudah lebih dulu memgacaukan biaya produksi pengusaha mikro, merobek kantong dan dompet emak-emak, sebelum menjebol pundi-pundi negara.

Pemerintah musti menuliskan resep ketahanan ekonomi dan keuangan negara dan rakyatnya. Mungkin harus ada pil pahit yang harus ditelan, tetapi dosisnya harus proporsional. Bukan pukul rata yang justru mematikan rakyat kecil dan miskin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
1080 Nama Bayi Perempuan Islami Tercantik dan Artinya, Huruf A-Z!
• 11 jam lalutheasianparent.com
thumb
Setelah Menganggur, Osvaldo Haay Kirim Kode Kembali ke Persebaya Surabaya
• 15 jam laluharianfajar
thumb
Di Sidang Nadiem, Ahli IT Sebut Harga Chromebook Berkisar Rp 3-4 Juta
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Ketersediaan Pertalite Terbatas, Antrean Panjang Terjadi di SPBU Teluk Latak
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Warga Lapor Lewat JAKI Ditindaklanjuti Foto AI, Pemprov Jakarta Akui Keliru
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.