JAKARTA, KOMPAS.TV - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih panjang.
Peringatan ini sejalan dengan rilis BMKG Jawa Timur yang menyebutkan musim kemarau mulai terjadi pada April 2026, dengan puncak pada Agustus 2026.
Dalam rilis tersebut juga disebutkan bahwa sebagian wilayah bahkan berpotensi mengalami puncak kemarau lebih awal, yakni pada Juli 2026.
Selama periode ini, mayoritas wilayah diperkirakan akan mengalami curah hujan yang lebih rendah dari normal, sehingga kondisi menjadi lebih kering.
Baca Juga: Daftar Wilayah yang Sudah Masuk Musim Kemarau 2026, BMKG Ungkap Ada Potensi ENSO ke Fase El Nino
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Chusni Mubarok, melalui unggahan akun Instagram @dprdjatim menekankan pentingnya kolaborasi dan kesiapan sejak dini agar dampak kemarau terhadap pertanian, ketersediaan air, dan kehidupan masyarakat dapat diminimalkan.
Pasalnya, Jawa Timur termasuk salah satu wilayah yang terdampak dengan durasi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang, yakni sekitar 7 hingga 8 bulan.
Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan di berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga ketersediaan air bersih.
Fenomena El Niño menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Dampaknya, musim kemarau dapat berlangsung lebih panjang, suhu udara menjadi lebih panas, serta curah hujan menurun.
Penulis : Dian Nita Editor : Gading-Persada
Sumber : Instagram @dprdjatim
- jawa timur
- el nino
- dampak el nino
- kemarau 2026
- dprd jawa timur
- antisipasi kekeringan





