Bisnis.com, JAKARTA – Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 8,05% untuk periode berjalan tahun ini hingga Senin (6/4/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Senin (6/4/2026), harga buyback emas Antam turun Rp27.000 ke Rp2.550.000. Posisi itu menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 pada akhir Januari 2026.
Kendati demikian, harga buyback emas Antam tercatat telah menguat 8,05% untuk periode berjalan 2026.
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Baca Juga
- Harga Emas Melemah, Simak Proyeksi Pergerakannya Hari Ini, Senin 6 Maret 2026
- Harga Emas Antam Hari Ini 6 April Turun Rp26.000, Dibanderol Rp2,83 Juta per Gram
- Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini, Senin 6 April 2026
Adapun, harga buyback emas Antam bergerak mengikuti harga emas di pasar spot. Dilansir dari laman Investing, harga emas di pasar spot terkoreksi 0,52% ke US$4.651,97 per troy ounce pada Senin (6/4/2026) pukul 11:00 WIB.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan aliran dana global saat ini cenderung lebih banyak masuk ke dolar AS dibandingkan emas. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, dolar dinilai lebih unggul sebagai safe haven utama, sehingga menekan pergerakan harga emas.
Selain itu, sikap kebijakan suku bunga dari bank sentral AS Federal Reserve yang masih cenderung mempertahankan level tinggi turut memperbesar tekanan. Dalam kondisi suku bunga tinggi, instrumen investasi yang memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak menghasilkan yield.
“Kondisi ini membuat ruang penguatan emas menjadi terbatas, terutama selama dolar AS masih berada dalam tren menguat,” ujar Geraldo Kofit dalam risetnya yang diterima Bisnis, Senin (6/4/2026)..
Geraldo mengatakan, secara teknikal, harga emas juga menunjukkan sinyal pelemahan. Harga tercatat gagal melanjutkan kenaikan dan mulai membentuk struktur lower high, yang mengindikasikan adanya tekanan jual di pasar.
Level resistance terlihat cukup kuat menahan kenaikan, sementara area support menjadi titik yang saat ini tengah diuji oleh pergerakan harga.
Dalam proyeksi jangka pendek, emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support di kisaran US$4.550. Jika tekanan berlanjut, harga bahkan berpeluang turun lebih dalam mendekati US$4.480.
Meski demikian, potensi koreksi naik tetap terbuka, terutama jika terjadi perubahan sentimen pasar, dengan kisaran rebound terbatas di area US$4.600 hingga US$4.642.
Namun demikian, kenaikan tersebut dinilai masih bersifat sementara dan belum cukup kuat untuk mengubah tren utama. Selama faktor fundamental seperti penguatan dolar dan kebijakan suku bunga tinggi masih mendominasi, arah pergerakan emas cenderung tetap berada dalam tekanan.
Dupoin Futures menilai pelaku pasar perlu mencermati perkembangan data ekonomi global serta arah kebijakan bank sentral ke depan. Kedua faktor ini akan menjadi katalis utama yang menentukan apakah emas mampu keluar dari tekanan atau justru melanjutkan tren pelemahan.





