Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono, mengajak masyarakat berpartisipasi dalam upaya mencegah banjir di wilayah Jabodetabek dengan biopori terutama untuk wilayah yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.
Menurut keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Senin, Wamen LH/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz menyampaikan hal itu ketika menyerahkan bantuan unit biopori dan alat lubang biopori untuk 10 desa di Kecamatan Cisarua dalam rangka Hari Air Sedunia pada Minggu (5/4).
"Idealnya, setiap rumah harus punya unit biopori, supaya tidak ada genangan, dan air bisa langsung turun ke tanah, jadi ada keseimbangan air, dan mengurangi risiko banjir. Jadi sebaiknya setiap rumah tanam satu pohon dan lubang biopori," ujar Wamen Diaz.
Bantuan masing-masing 50 unit biopori untuk 10 desa di Kecamatan Cisarua itu diberikan mengingat wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan hulu DAS Ciliwung yang perlu dijaga keseimbangan airnya.
Baca juga: DLH Makassar canangkan program 1.000 biopori
Wamen Diaz mengatakan bahwa menjaga keseimbangan air penting mengingat jumlah air bersih yang sangat sedikit. Karena itu dia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di sumber air.
"Air bersih disini itu ditemukan di sungai dan danau, tapi jumlahnya makin lama makin sedikit karena banyaknya sampah, maka dari itu, kita harus jaga air ini," jelansya.
Selain itu, Wamen Diaz menjelaskan bahwa kelebihan air juga dapat menimbulkan dampak negatif sehingga penanaman lubang biopori menjadi penting.
"Jangan sampai kekurangan air dan juga kelebihan air, kalau kelebihan akan jadi banjir, maka kita harus menjaga keseimbangan air masuk dan air keluar," tambahnya.
Selain penyerahan unit biopori, dalam kesempatan itu Kementerian Lingkungan Hidup juga menyerahkan bibit pohon, tiga unit perahu karet, serta unit pipa biopori dan alat pembuat lubang biopori. Selanjutnya, dilakukan penanaman 1.500 pohon serta pembuatan sumur resapan di Agrowisata Gunung Mas.
Baca juga: Pemkot Semarang targetkan buat 5.000 biopori cegah banjir
Baca juga: Kurangi sampah, setiap rumah di Bandung wajib miliki dua biopori
Menurut keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Senin, Wamen LH/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz menyampaikan hal itu ketika menyerahkan bantuan unit biopori dan alat lubang biopori untuk 10 desa di Kecamatan Cisarua dalam rangka Hari Air Sedunia pada Minggu (5/4).
"Idealnya, setiap rumah harus punya unit biopori, supaya tidak ada genangan, dan air bisa langsung turun ke tanah, jadi ada keseimbangan air, dan mengurangi risiko banjir. Jadi sebaiknya setiap rumah tanam satu pohon dan lubang biopori," ujar Wamen Diaz.
Bantuan masing-masing 50 unit biopori untuk 10 desa di Kecamatan Cisarua itu diberikan mengingat wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan hulu DAS Ciliwung yang perlu dijaga keseimbangan airnya.
Baca juga: DLH Makassar canangkan program 1.000 biopori
Wamen Diaz mengatakan bahwa menjaga keseimbangan air penting mengingat jumlah air bersih yang sangat sedikit. Karena itu dia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di sumber air.
"Air bersih disini itu ditemukan di sungai dan danau, tapi jumlahnya makin lama makin sedikit karena banyaknya sampah, maka dari itu, kita harus jaga air ini," jelansya.
Selain itu, Wamen Diaz menjelaskan bahwa kelebihan air juga dapat menimbulkan dampak negatif sehingga penanaman lubang biopori menjadi penting.
"Jangan sampai kekurangan air dan juga kelebihan air, kalau kelebihan akan jadi banjir, maka kita harus menjaga keseimbangan air masuk dan air keluar," tambahnya.
Selain penyerahan unit biopori, dalam kesempatan itu Kementerian Lingkungan Hidup juga menyerahkan bibit pohon, tiga unit perahu karet, serta unit pipa biopori dan alat pembuat lubang biopori. Selanjutnya, dilakukan penanaman 1.500 pohon serta pembuatan sumur resapan di Agrowisata Gunung Mas.
Baca juga: Pemkot Semarang targetkan buat 5.000 biopori cegah banjir
Baca juga: Kurangi sampah, setiap rumah di Bandung wajib miliki dua biopori





