Amerika Serikat dihujani kritik akibat penggunaan narasi keagamaan terkait dengan keberhasilannya melakukan operasi penyelamatan seorang awak militer yang pesawatnya ditembak jatuh dalam wilayah dari Iran.
Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, Marjorie Taylor Greene menyoroti bagaimana keberhasilan operasi penyelamatan tersebut dinilai sebagai Mukjizat Paskah oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Baca Juga: Klaim Dapat Mukjizat Paskah, Amerika Serikat Yakin Tuhan 'Menyertai' Operasi Penyelamatan di Iran
Hal tersebut membuatnya geram dan menilai bahwa nilai-nilai keagamaan telah dikhianati oleh Trump. Ia menyatakan bahwa pejabat yang beragama seharusnya mendorong perdamaian, bukan memperluas konflik.
“Umat Kristen di pemerintahan seharusnya mengupayakan perdamaian daripada meningkatkan perang. Ajaran Yesus menekankan pengampunan dan kasih sayang, termasuk terhadap musuh,” katanya.
Organisasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) turut mengecam pernyataan dari Trump. Ia menyoroti penggunaan frasa “Praise be to Allah” dalam konteks ancaman militer yang dikeluarkan sang presiden terhadap Iran.
Menurut lembaga tersebut, pernyataan tersebut mencerminkan penggunaan bahasa agama secara tidak tepat dan berpotensi merendahkan umat dari Muslim. Pihaknya juga khawatir penggunaan narasi keagamaan akan memperburuk konflik dari Iran dan Amerika Serikat.
Sementara itu, puluhan anggota parlemen dilaporkan mendorong adanya penyelidikan dugaan penggunaan narasi agama dalam pembenaran perang Iran. Hal ini menyusul tidak adanya kepastian maupun tujuan yang jelas dalam operasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat ke Teheran.
“Pada saat miliaran dolar dan nyawa yang tak terhitung jumlahnya dipertaruhkan sementara pemerintah melancarkan perang, keharusan untuk menjaga pemisahan ketat antara gereja dan negara serta melindungi kebebasan beragama pasukan kita sangat penting,” kata isi surat terkait, dikutip dari Reuters.
Dalam surat resmi, para legislator menegaskan pentingnya menjaga pemisahan antara agama dan negara, terutama dalam konteks operasi militer. Mereka juga menekankan bahwa keputusan militer harus didasarkan pada fakta dan hukum, bukan pada interpretasi keagamaan ekstrem.
“Kita harus memastikan bahwa operasi militer dipandu oleh fakta dan hukum, bukan nubuat akhir zaman dan keyakinan agama yang ekstrem,” demikian isi surat tersebut.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pejabatnya menggambarkan operasi penyelamatan yang baru-baru ini terjadi sebagai keajaiban dari Paskah. Ia menyatakan bahwa keberhasilan misi tersebut merupakan bentuk intervensi ilahi.
Pejabat Amerika Serikat juga turut menggunakan simbolisme religius dalam menggambarkan operasi tersebut, berbeda dengan tradisi sebelumnya yang biasanya hanya menyampaikan ucapan secara formal terkait Paskah.
Adapun Iran juga kerap menggunakan narasi religius dalam propaganda militernya. Sistem politik negara itu sendiri berbasis pada ajaran dari Islam Syiah. Teheran diketahui dalam retorikanya sering menyematkan julukan “Great Satan” ke Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump Klaim Langit Iran Sudah Dikuasai Amerika Serikat
Hal ini mencerminkan meningkatnya sensitivitas terhadap penggunaan simbol dan bahasa agama dalam konflik geopolitik yang semakin kompleks dari Iran dan Amerika Seriakt di Timur Tengah.





