Kebiasaan duduk atau berdiam diri dalam waktu lama ternyata menyimpan risiko serius bagi kesehatan jantung. Sanjay Bhojraj dokter spesialis jantung dan pembuluh darah mengingatkan, gaya hidup sedentari dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga dua kali lipat.
“Kebiasaan sehari-hari ini menggandakan risiko serangan jantung anda, dan kebanyakan orang tidak memikirkannya dua kali,” kata Sanjay, dikutip dari Hindustan Times, Minggu (5/4/2026).
Dalam unggahan di instagramnya @doctorsanjaymd, ia menyoroti bahwa kurangnya aktivitas fisik sering kali diabaikan dibanding faktor risiko lain seperti pola makan atau kebiasaan merokok.
Padahal, selama lebih dari 20 tahun praktik, ia kerap menemukan bahwa kebiasaan tidak bergerak dalam waktu lama berdampak langsung pada sistem tubuh. Menurutnya, duduk terlalu lama dapat memperlambat sirkulasi darah, meningkatkan kadar gula darah, hingga memicu pembekuan darah.
Kondisi inilah yang kemudian berkontribusi terhadap meningkatnya risiko serangan jantung dan stroke. “Itulah bagaimana risiko serangan jantung dan stroke meningkat,” ujarnya.
Temuan tersebut sejalan dengan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko utama kematian akibat penyakit tidak menular.
Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut orang dewasa yang tidak aktif memiliki risiko kematian 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibanding mereka yang cukup bergerak. Selain itu, perilaku sedentari juga berkaitan erat dengan hipertensi dan obesitas, dua kondisi yang menjadi pintu masuk utama penyakit jantung.
Tak hanya berdampak pada individu, gaya hidup tidak aktif juga menimbulkan beban ekonomi global. Studi yang dikutip WHO pada 2022 mencatat, kurangnya aktivitas fisik berkontribusi terhadap biaya perawatan kesehatan hingga sekitar 27 miliar dolar AS per tahun, akibat meningkatnya kasus diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Secara medis, duduk terlalu lama menyebabkan perlambatan metabolisme tubuh. Produksi enzim yang berfungsi memecah lemak dalam darah menurun, sehingga memperbesar risiko penumpukan lemak dan gangguan kardiovaskular.
Meski demikian, Sanjay menegaskan solusi untuk mengurangi risiko ini tidak harus melalui olahraga berat. Ia menyarankan langkah sederhana seperti berdiri setiap 30–60 menit, berjalan kaki singkat, atau melakukan gerakan ringan seperti squat.
Langkah kecil tersebut dinilai cukup efektif untuk menjaga sirkulasi darah tetap optimal dan menurunkan risiko penyakit jantung di tengah gaya hidup modern yang cenderung minim aktivitas. (bil/iss)




