Uni Emirat Arab (UEA) mendesak agar setiap penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak hanya berhenti pada gencatan senjata, tetapi benar-benar menjamin akses di Selat Hormuz.
Penasihat diplomatik presiden UEA, Anwar Gargash, menegaskan pada Senin (6/4) bahwa jalur pelayaran strategis tersebut tidak boleh dijadikan alat tekanan dalam konflik.
"Selat Hormuz tidak boleh disandera oleh negara mana pun," ujarnya, dilansir Reuters.
Ia menambahkan, kebebasan navigasi di jalur tersebut "harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap penyelesaian konflik."
Gargash menekankan, UEA memang menginginkan perang segera berakhir. Namun, ia mengingatkan bahwa gencatan senjata tanpa solusi menyeluruh justru berisiko memperburuk situasi kawasan.
"Kami tidak ingin melihat eskalasi terus terjadi. Tapi kami juga tidak ingin gencatan senjata yang gagal menyelesaikan isu-isu utama yang akan menciptakan lingkungan yang jauh lebih berbahaya di kawasan," katanya.
Ia secara khusus menyinggung program nuklir Iran, serta penggunaan rudal dan drone yang disebut masih terus mengancam negara-negara di kawasan.
Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintas setiap hari. Karena itu, menurut Gargash, keamanannya bukan sekadar kepentingan regional, melainkan kebutuhan ekonomi global.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran. Ia memperingatkan akan "menurunkan neraka" ke Teheran jika tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum Selasa (7/4).
Konflik ini telah berlangsung lebih dari lima minggu, sejak serangan awal AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari, setelah negosiasi nuklir mengalami kebuntuan. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk fasilitas energi di kawasan Teluk.
Menurut Reuters, Gargash menyebut situasi saat ini sebagai skenario terburuk yang selama ini dikhawatirkan UEA. Meski demikian, ia menilai negaranya masih mampu bertahan di tengah tekanan.
Ia juga menilai strategi Iran justru akan memperkuat aliansi keamanan negara-negara Teluk dengan AS, sekaligus memperbesar peran militer AS di kawasan.





