Perwakilan WHO Indonesia mendorong penggunaan metode diagnosis cepat Near Point of Care (NPOC) sebagai solusi untuk mempercepat penemuan kasus tuberkulosis (TB) atau TBC di Indonesia, yang hingga kini masih menghadapi kesenjangan deteksi.
Perwakilan WHO Indonesia, Setiawan Jati Laksono, mengatakan NPOC menjadi salah satu inovasi terbaru yang memungkinkan diagnosis lebih cepat dan lebih murah dibanding metode sebelumnya.
“NPOC ini memungkinkan diagnosis yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih akurat dibanding metode sebelumnya,” kata Setiawan dalam konferensi pers Hari TB Sedunia 2026 di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Senin (6/4).
Menurutnya, kehadiran teknologi ini penting untuk menutup kesenjangan penemuan kasus TB yang masih terjadi secara global maupun di Indonesia.
Secara global, dari sekitar 10,7 juta kasus TB setiap tahun, masih ada sekitar 2,4 juta kasus yang belum terdeteksi.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa percepatan diagnosis menjadi kunci dalam memutus rantai penularan TB.
“Selama kasus TB belum ditemukan, maka penularan akan terus terjadi. Karena itu, kita harus mempercepat skrining dan diagnosis di masyarakat,” ujar Benny.
Ia menambahkan, pemerintah kini menggencarkan berbagai strategi penemuan kasus, salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar deteksi dini penyakit di masyarakat.





