Washington: Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan meminta perusahaan satelit komersial untuk membatasi distribusi citra wilayah konflik di Timur Tengah.
Dikutip dari Raw Story, Senin, 6 April 2026, perusahaan satelit Planet Labs menyatakan telah menangguhkan pengiriman citra di wilayah Iran dan sekitarnya atas permintaan pemerintah AS.
Kebijakan ini berdampak pada akses terhadap data visual yang selama ini digunakan oleh media dan organisasi hak asasi manusia untuk memantau situasi di lapangan.
Sejumlah aktivis menyuarakan kekhawatiran bahwa pembatasan tersebut dapat mempersulit verifikasi independen terhadap dampak serangan militer.
Sementara itu, di Lebanon selatan, Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) melaporkan bahwa kamera pengawas yang menghadap markas mereka di Naqoura telah dihancurkan.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menyatakan pihaknya telah mengajukan protes resmi atas insiden tersebut. “UNIFIL memandang tindakan ini dengan keprihatinan mendalam dan telah mengajukan protes resmi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semua pihak memiliki kewajiban untuk menjamin keselamatan personel PBB serta menghormati fasilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Insiden tersebut terjadi setelah laporan mengenai ledakan di Lebanon selatan yang melukai personel penjaga perdamaian.
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari.
Presiden Trump sebelumnya juga menyampaikan ancaman akan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur Iran jika tidak tercapai kesepakatan dalam waktu dekat.
Di sisi lain, sejumlah badan internasional memperingatkan potensi risiko besar jika serangan menyasar fasilitas sensitif, termasuk instalasi energi dan nuklir.
Baca juga: Iran Sebut Kebijakan Gegabah Trump Akan Seret AS ke 'Neraka Dunia'




