Bagi sebagian besar orang, satu galon plastik kosong bekas hanyalah benda yang tidak terpakai dan tidak bernilai. Namun, bagi Puji, galon bening yang ia temukan di tumpukan sampah itu jadi sebuah “kemewahan”.
Setiap hari Puji selalu menarik gerobak kayunya berkeliling untuk menyisir tempat sampah dan jalanan. Senyumnya merekah saat ia menemukan galon Le Minerale yang sudah tidak terpakai. Ya, galon itu bisa ia tukar dengan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.
Hal yang dilakukan Puji dan beberapa pemulung lainnya sebetulnya merupakan bagian kecil dari upaya menjaga lingkungan. Di Indonesia, sektor informal, seperti pemulung, jadi tulang punggung dari sistem daur ulang nasional.
Namun ternyata, tidak semua galon plastik sama bagi mereka. Dalam dunia daur ulang, kualitas material menentukan harga dan kelayakan. Puji dan banyak pengepul lainnya merasa terbantu jika menemukan galon berbahan PET seperti galon Le Minerale karena galon PET memiliki nilai jual.
Cerita dari Puji hanya satu dari ribuan perjuangan di jalanan yang sering luput dari pandangan kita. Lalu, bagaimana satu keputusan kecil kita dalam memilih kemasan yang mudah didaur ulang ternyata bisa berdampak bagi kesejahteraan seseorang?
Yuk, simak video bertajuk “Nafkah dari yang Terbuang” hasil kolaborasi kumparan bersama Le Minerale ini, yuk!
Kita lihat lebih dekat bagaimana para pemulung dan pengepul mewujudkan harapan mereka lewat tumpukan galon bening.





