Jakarta, tvOnenews.com - Dampak krisis BBM (bahan bakar minyak) ini sudah dialami sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia. Hal ini buntut blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan serangan AS-Israel.
Menyikapi hal ini, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, terang-terangan mengakui pasokan BBM Petronas hanya cukup sampai bulan Mei 2026.
Mengutip Paultan, perusahaan minyak nasional Malaysia, Petronas, kini berubah statusnya dari perusahaan eksportir minyak, menjadi perusahaan importir minyak.
Hal ini menjelaskan mengapa Malaysia tetap rentan terhadap tekanan pasokan energi global, meskipun merupakan negara penghasil minyak.
"Petronas kini menjadi importir murni, kita perlu beli minyak. Pasokan untuk April dan Mei mencukupi, tetapi untuk Juni masih belum pasti," jelas Anwar saat meresmikan Program Madani Rakyat Perak 2026 (4/4) seperti dilaporkan Bernama.
Tanggapan Perdana Menteri ini muncul di tengah persepsi bahwa Malaysia seharusnya tak menghadapi krisis minyak setelah konflik di Asia Barat.
Ia menambahkan bahwa semua pihak harus memahami realitas saat ini dan bekerja sama untuk menemukan solusi guna memastikan stabilitas pasokan energi negara.
Sebelumnya pada Jumat (3/4) Presiden dan CEO Grup Petronas, Tan Sri Tengku Muhammad Taufik Tengku Aziz, bilang Malaysia punya pasokan minyak mentah yang relatif cukup dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Ia menunjukkan bahwa hampir 40% impor minyak mentah Malaysia melewati Selat Hormuz, dibandingkan dengan hampir 90% untuk negara-negara Asean lainnya yang bergantung pada jalur tersebut.
Taufik juga mengatakan bahwa produksi minyak mentah domestik Malaysia secara bertahap menurun karena ladang-ladang minyak yang sudah tua mengalami penipisan alami.
Pada 1990-an dan awal 2000-an, Malaysia memproduksi lebih dari 700.000 barel per hari, namun produksi minyak mentah domestik saat ini diperkirakan sekitar 350.000 barel per hari.
Sistem penyulingan Petronas membutuhkan sekitar 700.000 barel per hari untuk memenuhi permintaan bahan bakar domestik, jadi perlu impor untuk mengisi kekurangan tersebut.
"Bukan berarti Petronas tidak menyadari (penurunan produksi minyak mentah). Upaya eksplorasi terus dipimpin bersama dengan kontraktor dan investor, tapi yang kami temukan sebagian besar adalah gas alam. Sebagian besar adalah gas alam, dan Malaysia adalah wilayah yang kaya akan gas," pungkasnya. (aag)




