Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan inflasi nasional turun menjadi 3,48 persen dan masih berada dalam rentang target pemerintah.
Meski demikian, pemerintah daerah diminta tidak berpuas diri dan tetap mewaspadai potensi tekanan inflasi ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang dirangkaikan dengan pembahasan Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bantuan Operasional Kesehatan Pengawasan Obat dan Makanan di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin, 6 April 2026.
“Kita bersyukur karena inflasi kita terjaga, cukup baik turun ke angka, masuk dalam angka target di bawah 3,5 persen, 3,48 persen, tapi jangan kita berpuas diri,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Senin, 6 April 2026.
Tito menegaskan meski angka inflasi membaik, kondisi tersebut belum merata di seluruh wilayah.
Ia meminta pemerintah daerah tidak hanya berpatokan pada inflasi tahunan (year on year), tetapi juga memperhatikan inflasi bulanan (month to month) yang dinilai lebih mencerminkan tren terkini.
“Yang lebih utama sekali sebetulnya adalah month to month, waktu dari bulan ke bulan Februari ke Maret itu yang lebih menggambarkan tren,” ucap Tito.
Dalam forum tersebut, Tito juga menyoroti sejumlah daerah yang masih mengalami tekanan inflasi bulanan, di antaranya Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, NTB, Kalimantan Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Utara, dan Bali.
Ia meminta kepala daerah segera mengambil langkah konkret, termasuk menggelar rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Kepala daerah tidak boleh diam, harus segera bergerak,” tutur Tito.
Lebih lanjut, Tito menjelaskan bahwa tekanan inflasi umumnya dipicu oleh tiga faktor utama, yakni keterbatasan pasokan, lonjakan permintaan, serta hambatan distribusi.
Untuk itu, pemerintah daerah diminta responsif dalam mengidentifikasi akar persoalan, termasuk berkoordinasi dengan distributor dan mengawasi potensi penimbunan barang.
Selain itu, ia juga menyoroti harga komoditas pangan strategis seperti daging ayam ras dan telur ayam ras yang masih mengalami kenaikan di sejumlah daerah, meskipun secara umum mulai menunjukkan tren penurunan.
“Daging ayam ras sudah turun tapi masih cukup tinggi di 148 daerah, telur ayam ras juga menurun dari 256 daerah tapi masih di 145 daerah terjadi kenaikan,” tutur Tito.
Editor: Redaksi TVRINews





