Ketua MPR Ahmad Muzani menyerukan kepada seluruh negara yang terlibat konflik di Timur Tengah untuk segera menghentikan perang dan kembali menempuh jalur diplomasi.
Seruan itu disampaikan menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak luas terhadap dunia.
“Itu sebabnya dari mimbar yang terhormat ini, saya Ahmad Muzani Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat menyerukan agar semua negara yang terlibat dalam peperangan menghentikan seluruh kegiatan peperangan di Timur Tengah,” kata Muzani di Taman Siswa, Mergangsan, Yogyakarta, Senin (6/4).
“Perang telah menyebabkan dunia krisis ekonomi, krisis energi, krisis kemanusiaan, krisis ekologi, dan perang itu tidak mengenal belas kasihan apa pun,” lanjutnya.
Ia menegaskan, konflik yang terjadi di Timur Tengah telah menjadi bencana global yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
“Suasana perang yang sekarang sedang berkecamuk di Iran, antara Iran melawan Amerika dan Israel, adalah bencana besar bagi kemanusiaan, bencana besar bagi ekonomi, dan bencana besar bagi peradaban dan ekologi alam kita. Kenapa perang meskipun jauh sekali dari tempat ini, ribuan kilometer terjadi dari Yogyakarta, tapi dampaknya kita sudah mulai terasa,” katanya.
Menurut Muzani, dampak konflik tersebut mulai dirasakan melalui kenaikan harga kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk kawasan Asia Tenggara.
“Negara-negara tetangga kita Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, sudah mulai menaikkan berbagai macam harga-harga. Banyak negara-negara termasuk Australia, kebutuhan barang pokok mulai naik. Itu bukan diakibatkan apa-apa tapi diakibatkan karena perang di Timur Tengah, dan itu adalah bencana kemanusiaan terbesar,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan perang membawa dampak kemanusiaan yang sangat serius, termasuk kerusakan infrastruktur vital dan penderitaan masyarakat sipil.
“Itu sebabnya Pak Prabowo selalu ngomong berulang-ulang, ‘Saya ini tentara, saya ini tukang perang, jangan sampai ada perang karena perang itu jahat, perang itu berbahaya, perang itu tidak mengenal belas kasihan.’ Sekolah dihancurkan, rumah sakit dihancurkan, air minum dihancurkan, listrik dihancurkan, rumah sakit pun dihancurkan, tidak mengenal batas-batas kasihan,” tuturnya.
Muzani menekankan pentingnya peran aktif Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia melalui jalur diplomasi dan perundingan internasional.
“Indonesia harus terlibat aktif dalam upaya mencari perdamaian, Indonesia harus terlibat aktif dalam mencari solusi, Indonesia harus terlibat aktif dalam setiap perundingan. Kita harus kembali kepada perundingan, kepada diplomasi. Perang itu artinya kita tidak lagi percaya dengan diplomasi, dengan perundingan,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama puluhan tahun dunia mampu menghindari perang besar karena mengedepankan dialog dan diplomasi antarnegara.
“Sejak selesainya Perang Dunia kedua, semua perbedaan meskipun ketika itu ada perang dingin antara Barat dan Timur, antara Uni Soviet dan Amerika, tapi semua bisa dijalankan dengan perundingan dan diplomasi. Ini tiba-tiba ada perang yang bisa mengancam kita semuanya. Semua perbedaan harus diselesaikan dalam perundingan-perundingan dan diplomasi-diplomasi,” katanya.
Muzani menyinggung kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian dunia, termasuk keterlibatan prajurit TNI dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu disampaikannya menyusul tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL gugur di Lebanon.
“Bangsa Indonesia yang diajarkan oleh para pemimpin-pemimpinnya, mengajarkan bahwa perdamaian bisa dicapai apabila kita mencapai dengan kesabaran pelan-pelan. Itu sebabnya rakyat marah ketika ada tiga prajurit TNI gugur di UNIFIL, Lebanon Selatan,” ujarnya.
Politikus Gerindra ini menegaskan, kehadiran prajurit TNI di Lebanon merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
“Dia ke Lebanon Selatan itu bukan mau piknik, mereka ke Lebanon Selatan itu menjalankan misi PBB, menjalankan misi perdamaian yang diemban oleh PBB, dan sedang menjalankan fungsi konstitusi kita yakni menjalankan yakni menjaga perdamaian-perdamaian dunia. Menjadi korban dan kita semua berduka atas wafatnya tiga tentara terbaik kita ini,” tutupnya.





