FAJAR, MAKASSAR — Di tengah dinamika kompetisi yang kian ketat, keberadaan PSM Makassar dalam pusaran performa yang belum stabil memantik perhatian banyak pihak. Namun yang menarik, perhatian itu tidak hanya datang dari suporter atau pengamat sepak bola, melainkan langsung dari pucuk pimpinan kota. Sosok Munafri Arifuddin—yang akrab disapa Appi—turun tangan, menghadirkan energi baru sekaligus menegaskan satu pesan penting: PSM tidak boleh terdegradasi.
Kehadiran Appi di Stadion Kalegowa, Senin petang, bukan sekadar kunjungan formal. Ia datang membawa beban emosional sebagai mantan CEO klub, sekaligus tanggung jawab moral sebagai Wali Kota Makassar. Di lapangan latihan itulah, ia menyaksikan langsung bagaimana denyut nadi Pasukan Ramang—julukan PSM—sedang berusaha menemukan kembali ritme terbaiknya.
Bagi Appi, PSM bukan hanya klub sepak bola. Ia adalah simbol kebanggaan kota, representasi identitas kolektif masyarakat Makassar. Karena itu, ketika performa tim terlihat menurun, ia merasa perlu hadir secara langsung. Bukan untuk mengintervensi secara teknis, tetapi untuk memastikan semangat juang para pemain tetap terjaga.
Apa yang ia lihat dalam beberapa laga terakhir, termasuk saat PSM bermain imbang melawan Persis Solo di Stadion Gelora B.J. Habibie, cukup mengkhawatirkan. Menurutnya, tim seperti kehilangan identitas—kehilangan daya juang yang selama ini menjadi ciri khas mereka.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Dalam pertandingan tersebut, PSM memang tampak kurang menggigit. Intensitas permainan tidak konsisten, tekanan kepada lawan kurang maksimal, dan yang paling terasa adalah absennya determinasi untuk benar-benar mengunci kemenangan. Padahal, di kompetisi seketat Super League 2025/2026, setiap poin sangat berarti.
Inilah yang kemudian mendorong Appi untuk berdialog langsung dengan manajemen, termasuk dengan pelatih Sadikin Aksa. Ia ingin memastikan ada langkah konkret untuk mengembalikan mentalitas tim. Sebab menurutnya, kualitas skuad saat ini sebenarnya tidak buruk.
Dalam pandangannya, persoalan utama bukan terletak pada kemampuan individu pemain, melainkan pada bagaimana potensi tersebut dikelola. Sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar teknik—ia membutuhkan manajemen yang kuat, strategi yang tepat, dan atmosfer tim yang sehat.
Appi menekankan pentingnya perubahan. Ia menolak kondisi stagnan yang bisa membuat tim semakin terpuruk. Perubahan itu bisa datang dalam berbagai bentuk: pendekatan taktik yang lebih agresif, rotasi pemain yang lebih berani, atau bahkan penyegaran dalam struktur tim.
Baginya, kompetisi tidak bisa dihadapi dengan pendekatan monoton. Harus ada kejutan, inovasi, dan keberanian mengambil risiko. Hal ini penting tidak hanya untuk meningkatkan performa, tetapi juga untuk membangkitkan motivasi pemain—terutama mereka yang selama ini jarang mendapat kesempatan bermain.
Di sisi lain, Appi juga menggarisbawahi pentingnya nilai budaya lokal dalam membentuk karakter tim. Konsep Siri’ na Pacce—yang mencerminkan harga diri dan solidaritas—harus kembali menjadi fondasi dalam permainan PSM. Nilai ini bukan sekadar slogan, tetapi filosofi yang selama ini menjadi kekuatan utama klub.
Dalam sejarahnya, PSM dikenal sebagai tim dengan mental baja. Mereka mungkin tidak selalu memiliki skuad paling mewah, tetapi semangat juang yang tinggi sering kali menjadi pembeda. Inilah yang menurut Appi mulai memudar, dan harus segera dikembalikan.
Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya momentum. Laga tandang melawan PSIM Yogyakarta pekan depan dianggap sebagai titik krusial. Jika PSM mampu meraih hasil positif di laga tersebut, itu bisa menjadi titik balik untuk kebangkitan tim.
Momentum dalam sepak bola sering kali menjadi faktor psikologis yang sangat kuat. Satu kemenangan bisa mengubah atmosfer tim secara drastis—dari penuh tekanan menjadi penuh kepercayaan diri. Sebaliknya, hasil negatif yang beruntun bisa membuat tim terjebak dalam spiral penurunan performa.
Karena itu, Appi berharap PSM tampil dengan pendekatan berbeda. Ia menekankan pentingnya pressing sejak awal pertandingan, penguasaan permainan, serta pemilihan pemain yang tepat. Tidak ada lagi ruang untuk bermain aman—yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendominasi.
Di luar aspek teknis, perhatian Appi juga tertuju pada dukungan suporter. Ia menyadari bahwa antusiasme mulai menurun, tetapi ia melihat itu sebagai konsekuensi dari hasil di lapangan. Baginya, cara terbaik untuk mengembalikan kepercayaan suporter adalah dengan menghadirkan kemenangan.
Sepak bola memang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan pendukungnya. Ketika tim menang, stadion akan penuh. Ketika tim terpuruk, dukungan pun bisa meredup. Namun loyalitas sejati tetap ada—dan tugas tim adalah menyalakan kembali api tersebut.
Menariknya, pengalaman Appi saat mendampingi PSM di masa sulit, terutama pada periode pandemi COVID-19 di Bali, menjadi referensi penting. Saat itu, tim berada dalam tekanan besar, tetapi mampu bertahan melalui langkah-langkah strategis.
Pengalaman itu memberinya keyakinan bahwa situasi saat ini masih bisa diperbaiki. Kuncinya adalah kerja sama, komunikasi, dan keberanian mengambil keputusan yang tepat.
Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan Appi sangat jelas: PSM Makassar adalah klub besar yang tidak pantas berada di posisi sekarang. Mereka memiliki sejarah, kualitas, dan dukungan yang cukup untuk bersaing di papan atas.
Namun semua itu tidak akan berarti tanpa usaha kolektif. Pemain harus meningkatkan performa, pelatih harus menemukan formula terbaik, dan manajemen harus menciptakan lingkungan yang mendukung.
Jika semua elemen ini bisa berjalan selaras, maka harapan untuk melihat PSM kembali berjaya—bahkan tetap bertahan di kasta tertinggi Super League—bukanlah sesuatu yang mustahil.




